Tulisan ini saya tulis setengah tahun yang lalu….

Saya posting lagi di blog ini, untuk nambah postingan awal-awal ……

Mudah-mudahan bermanfaat

————————————————————————————————————

Hari Sabtu, tgl 22 November 2008, saya ke video ezzy, untuk nyari film-film dulu
Setelah memilah dan memilih, akhirya saya minjem dua film, yang salah satunya adalah film “Medley” yang konon katanya merupakan film yang tidak biasa menurut sinopsis yang saya baca. (minimal dibanding sinetron Indonesia kayaknya lebih baik deh…)

Sampe rumah saya langsung nonton film medley….

Film dengan ide cerita – bukan para pemeran & aktingnya – yang menurut saya luar biasa. Berkisah tentang seorang pegawai swasta, yang sangat tidak puas dengan kehidupannya yang sekarang…
Dia tidak puas dengan pekerjaannya, tidak puas dengan penghasilannya, tidak puas dengan kehidupan sosialnya, tidak puas dengan keluarganya (istri n anaknya), dan selalu memikirkan kehidupan yang lain yang bisa dia pilih dimasa lalunya…
Ketika dia bisa memilih untuk menikah dengan seorang model cantik, atau memilih untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri, atau memilih untuk menjadi artis dan pengusaha yang sukses.

Singkat cerita, diceritakan kalo dia kemudian diberi kesempatan untuk masuk dalam scene kehidupan pilihannya.
Scene pertama menempatkan dia sebagai seorang pengusaha sukses dan kaya raya yang memiliki istri yang cantik (ya iyalah, Alexandra Gotardo gitu loh)
10 menit pertama di scene itu, diceritakan segala kebaikan pilihannya tersebut….
sampai si cowok mengetahui kalo istrinya (Alexandra Gotardo itu loh..) ternyata selingkuh dengan orang lain. Dengan alasan yang cukup klise.
Si gadis tidak merasa cukup diperhatikan dan merasa tidak cukup hanya diberikan materi saja….
Disini si pria (seperti yang sudah diduga sebelumnya) menyesali keputusannya dan beralih kepada pilihannya hidupnya yang lain….

Maka berpindahlah scene film itu ke scene dua pilihan si pria, dimana si pria adalah seorang yang lagi2 sukses dan berperan sebagai artis yang berada dipuncak karier dengan calon istri yang juga lagi-lagi cantik (imelda therine coy )
Di kehidupannya yang ketiga ini, si pria tidak perlu khawatir dengan kesetiaan sang gadis.
Si Gadis (Imelda) sangat mencintai si pria bahkan terobsesi dengannya.
Seperti pisau bermata dua, sang pria memang tidak perlu khawatir dengan masalah perselingkuhan, tapi justru terganggu dengan posesifitas si gadis

Disaat yang bersamaan, masih dalam scene yang sama, si pria bertemu kembali dengan istri nya dalam kehidupan yang sebenarnya (Rachel Mariam) yang tidak lagi mengenal si cowok kecuali fakta bahwa mereka pernah satu kampus.
Singkat cerita keduanya melakukan pendekatan lagi, padahal si pria dan si gadis telah memiliki tunangan masing2.

Disinilah inti cerita dari film “Medley”…
Kita baru mengetahui sesuatu itu berharga justru ketika kita kehilangannya…
Si cowok baru sadar apa yang selama ini tidak pernah diperhatikannya, atau apa yang diperhatikannya namun tidak dia hargai.

Walaupun pada akhirnya sang gadis lebih memilih untuk melanjutkan kisahnya sendiri bersama tunangannya, yang membuat si cowok semakin desperate hingga akhirnya si pria tertabrak truk, yang memang diperlukan untuk kembali ke dunia aslinya…
Dimana dia bisa berkumpul kembali bersama istri n anaknya…
Dimana dia ingat bahwa di lupa untuk bersyukur atas nikmat-Nya…

“Fabiayyi aalaaa irobbikuma tukadzibaan”
Nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?

Berulang2 sang Khalik mengingatkan kita, dan berulang-ulang juga kita mendustakan nikmatnya.
31 kali ayat itu diulang dalam Ar Rahman, sama persis dengan jumlah hari dalam setiap bulannya, dan setiap hari juga kita mendustakan nikmatnya.

“Medley” menjadi pemicu saya untuk memahami “lagi” bahwa, semua rutinitas & masalah kita diatas hanyalah efek dari pilihan-pilihan kita…
Dimana setiap pilihan memiliki konsekuensi.

Tidak ada yang perlu disesali, yang perlu adalah mengucapkan syukur…

Ide cerita “Medley” sebenarnya bukan ide yang benar2 baru. Sebelumnya ada film2 Holywood yang didasari landasan filosofi yang sama seperti Trilogi Matrix dan Thirteen Floor mengambil dari ide yang sama.
Ide yang mempertanyakan kemungkinan kehidupan kita yang lain di dunia yang sama.

Ide yang juga pernah dibahas oleh Cendekiawan Muslim – Harun Yahya dalam bukunya (Keabadian Telah Tiba)

Bolehkah kita berasumsi (sekali lagi, ini hanya asumsi) bahwa kehidupan paralel manusia dengan pemeran dan dunia yang sama namun scene yang berbeda memang ada.

Setiap pilihan manusia adalah suatu cabang jalan paralel, dimana ketika manusia dihadapkan pada dua pilihan, maka kedua pilihan itu pada dasarnya diperankan oleh manusia tersebut namun pada scene yang berbeda.

Jika kita dihadapkan pada pilihan untuk menikahi A atau B, maka ketika kita memutuskan untuk menikahi A, maka ada scene lain dimana kita yang lain memilih B untuk dinikahi.

Dan dengan pemikiran ini, jalan paralel ini justru semakin memperkuat ke Maha Besar-an Yang Maha Kuasa

Coba bayangkan, bila setiap hari seorang manusia dihadapkan pada 1000 pilihan (mulai dari pilihan baju, sepatu, kaos kaki, rute perjalanan, pom bensin yang akan disinggahi, dll dll)

silahkan hitung ada berapa kehidupan paralel lain yang perlu di urus oleh yang Sang Khalik, dan Dia sama sekali tidak merasa berat untuk mengaturnya…

Wallahualam….