Al Baqarah 2: 30
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Itulah pertanyaan yang berumur ribuan tahun (atau mungkin puluhan atau ratusan ribu tahun)
“Mengapa manusia diciptakan?”
Al Quran menyebutkan bahwa manusia diciptakan salah satunya adalah untuk beribadah pada Allah…
seorang agnostik kemudian bertanya….
“Mengapa Allah begitu mendambakan penghambaan dan penghormatan (peribadatan) dari makhluk lain?, bukankah itu memperlihatkan ketidak percaya dirian Tuhan akan kebesaran-Nya sendiri?”
Lihatlah bagaimana Allah menjawab melalui Quran ….
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”
kalo boleh saya analogikan, jawaban diatas mirip dengan seorang ayah/ibu ketika ditanya oleh seorang anak nya yang masih berusia 5 tahun yang bertanya….
“Jin tidak bisa kita lihat, Tuhan pun tidak bisa kita lihat, apakah Jin dan Tuhan itu sama?”
atau bertanya yang lebih sederhana
“apa seh yang dimaksud dengan teorema phytagoras?”
sang ibu/ayah, mungkin akan menjawab…
“Nak, kau masih terlalu kecil untuk mengerti akan hal tersebut…”
…..
Mungkin seperti itulah yang ingin disampaikan oleh sang Khalik….
Manusia belum memiliki kemampuan akal yang cukup untuk dapat mengerti hal-hal tersebut…..
Kemampuan akal tersebut mungkin baru bisa kita miliki setelah akhirat nanti
Itulah mengapa kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan “bodoh” semacam…
“Jika Tuhan Maha Besar, mampukah Dia menciptakan Batu yang lebih besar dari Dia sendiri sehingga Dia tidak mampu untuk mengangkatnya??”
sungguh kawan…
jawabannya sungguh sederhana
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”
Wallahualam
1 Agustus 2009 at 23:24
Tunggu aja yah, ntar saya posting tentang khalifah,
Wah bisa banyak belajar nih disini
salam, sahabatmu
5 Agustus 2009 at 22:33
@biru: Kemampuan akal tersebut mungkin baru bisa kita miliki setelah akhirat nanti
wah hebat banget ya, kemampuan orang yang beragama/beriman itu? bahkan setelah mati pun (di akhirat)masih bisa MIKIR.
Kalau aku sih jangankah dalam kematian bahkan dalam tidur pun aku sudah tidak mampu berpikir lagi.
Mungkin orang yang beragama itu terlalu banyak dihipnotik/dibayang-bayangi oleh ayat-ayat alkitab yang telah ditanamkan dari sejak tingkat TK.
Yah, selamat menikmati khayalan-khayalan yang menyeramkan aja yah.Mungkin bagimu memang lebih cocok dalam ketakutan dari pada “pembebasan”.
5 Agustus 2009 at 22:40
@biru :“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”
coba tanyakan pada tuhanmu, wahai tuhan apakah kamu mengetahui ASAL USUL DIRIMU?
Jika tuhan tidak tahu maka berarti tuhan tidak memiliki pengetahuan atas sejarah diri-Nya.
Masa jawabannya “tuhan tidak beranak dan tidak pula diperanakkan” terus asalnya darimana dong? masak tiba-tiba njedul? yang bener aja.
9 Agustus 2009 at 09:33
Mas Prayitno yang baik….
Jangan menterjemahkan ‘kemampuan akal’ dengan ‘masih bisa mikir’ dong…..
Maksud ucapan saya itu….
Jika di dunia ini pola pikir manusia masih ‘dibatasi’ dengan logika-logika, semisal
“if, then, or, and…. Dst dst”
Maka, pada hidup setelah mati nanti, keterbatasan kita pada logika2 tersebut, Insya Allah akan dibukakan….
9 Agustus 2009 at 21:54
dari zaman purba hingga hari ini, cerita masalah kematian selalu saja mengundang pikiran atau keyakinan yang tidak-tidak (absurd).
mengapa kita berpikir bahwa setelah kematian “di sana” ada dunia lain?
aku memang belum pernah mati, tetapi yang aku rasakan ketika aku tidur pulas, aku bahkan tak merasakan bahwa aku ini masih ada/hidup.
apakah dalam kematian tidak lebih parah kondisinya dari pada ketiduran? sebab fakta berbunyi dalam kematian maka seluruh fungsi organ akan berhenti sama sekali. Apakah anda bisa menyangkal kenyataan ini?
Jika fakta ini tidak bisa mengantarmu berpikir realistis,lalu apa yang menggerakkan kematian? coba aku ingin tahu argumenmu. yang masih percaya bahwa setelah mati ada kehidupan baru.
9 Agustus 2009 at 09:35
Lalu….
jika ternyata Tuhan mampu menjawab pertanyaan tersebut…
apakah anda mau mengakui bahwa Tuhan adalah Yang Maha Segalanya???
pertanyaan anda adalah pertanyaan retorik….
Insya Allah akan kita bahas dalam tulisan tersendiri….
9 Agustus 2009 at 21:42
Aku rasa jelas tidak mungkin tuhan akan jawab pertanyaan itu, sebab jika ada jawaban, maka siapa yang mau jawab?
Misalkan yang memberikan jawaban anda, terus bagaimana aku tahu bahwa itu jawaban dari tuhan? sementara yang ngejawab jelas dari mulut kamu.
@biru : “Insya Allah akan kita bahas dalam tulisan tersendiri”.
apakah untuk membahas pertanyaan dari aku harus menunggu ijin dari alloh (kamu bilang insya alloh)?
11 Agustus 2009 at 21:04
Loh…
dari mana anda tahu kalo Tuhan tidak mungkin menjawab pertanyaan itu???
apa anda sudah pernah coba?
terus….
dari mana juga anda tau kalo yang menjawab itu bukan dari Tuhan??
———————–
intinya begini mas sup….
anda mempertanyakan sesuatu pertanyaan yang sebetulnya anda sudah tau betul jawabannya
jawaban itu sendiri adalah….
“Tidak/belum diketahui”
sehingga….
menurut saya aneh ketika anda meminta kepada saya untuk bertanya pada Tuhan…
sementara anda sendiri (jauh sebelum saya memberikan jawaban) sudah berketetapan bahwa Tuhan tidak akan menjawab….
jadi, kalo saya balik bertanya pada anda…..
ngapain anda nanya/meminta hal tersebut pada saya????
paham mas?
10 Agustus 2009 at 04:23
@Mas Prayit : Bagus..bagus..lebih baik kalian pacaran di sini daripada membuat huruhara di sana.
Kalian yang rukun yah? Ntar tak kasih bolang-baling deh. Kapan-kapan.
Insya Allah juga diprotes hik hik hik? Kamu itu kayaknya memang tukang protes deh. Jangan-jangan kalo nggak protes sehari bisa meriang badanmu itu.
Gini ya sayangku tercinta :
Elo setuju apa tidak, aku pake istilah yang lebih umum saja biar kamu nggak terlalu sensi gicu.
Hidup manusia nggak urusan kamu Islam, Kristen, Budha atau atheis tergantung dari dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Lha faktor internal adalah sesuatu yang anda lakukan, hasil usaha anda – sedangkan faktor eksternal adalah apa yang punya peranan tetapi bukan tergantung dari usaha anda. Lha disinilah kata-kata semacam Insya Allah mendapatkan tempatnya gicu lho. Kalo kamu protes lagi masalah kecil macam gini kamu tak kasih award lama-lama.
coba tanyakan pada tuhanmu, wahai tuhan apakah kamu mengetahui ASAL USUL DIRIMU?
Jika tuhan tidak tahu maka berarti tuhan tidak memiliki pengetahuan atas sejarah diri-Nya.
Hik Hik hik, ini namanya dikotomi yang salah. Jika A maka B, hik hik hik sayangnya A dan B ternyata bukan satu-satunya hubungan yang bisa langsung disimpulkan.
Jika kamu bertanya padaku sejarah diriku, dan tidak aku jawab. Ada banyak kemungkinan : Pertama aku lagi sakit gigi. Kedua : Aku males ngomong sama kamu Ketiga : Aku melihat kamu males sehingga kamu tak ajari supaya nggak males tak suruh kamu nyari sendiri Keempat : Aku nggak mendengar pertanyaanmu. Kelima : Kamu ngomongnya nggak sopan Keenam : Aku sebenarnya sudah menjawab cuma kamu lagi meleng Ketujuh : Aku sudah menjawab Ntar..Ntar tapi kamu maksa terus Kedelapan : Tak jawab sebagian biar kamu tanya terus. DSB.
Jika Makamu tidak nyambung itu false dikotomi.
10 Agustus 2009 at 22:55
Teroris itu berkata “insya alloh besok pagi aku akan membunuh orang-orang kafir dengan cara meledakkan bom bunuh diri di hotel JW Marriott” –kebetulan karena terorisnya orang muslim jadi sedikit-sedikit bilang insya alloh-.
Kemudian ternyata niat itu kesampaian/terwujud, apakah itu karena alloh meridohi? Jika alloh
tidak meridohi mengapa teroris itu berhasil membunuh orang lain dan dirinya sendiri? Jika alloh tidak menyukai cara-cara kekerasan, apakah manusia bisa melawan kehendak aloh itu? jika bisa, dimana letak kemahakuasaan-Nya? Jika itu diridohi/diijinkan oleh alloh,berarti tuhan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada manusia, padahal tuhan tidak menyukai keburukan/kejahatan.
Makanya aku sama sekali gak setuju kata-kata insya alloh. Memang kita tak bisa selalu berhasil terhadap apapun usaha kita -karena ada faktor eksternal-, tetapi apakah ketidakberhasilan itu karena campur tangan alloh?
Apakah alloh tahu sejarah kelahiran diri-Nya? atau anda (Mr Love) bisa mewakili alloh untuk menjawabnya?meskipun aku rasa alloh tak butuh bantuanmu sayang………
11 Agustus 2009 at 21:10
Teroris said : Insya Allah dua minggu lagi kita ledakkan bom di iring2ngan mobil presiden
ternyata….
beberapa hari lalu mereka tertangkap, dan pemboman bisa digagalkan….
itu berarti Allah tidak meridhoi pemboman tersebut….
begitu kan logika lainnya??
atau
Saya berkata, Insya Allah saya akan jawab pertanyaan anda….
dan, setelah saya jawab pertanyaan anda, itu berarti membuktikan bahwa ijin Allah memang ada…
begitu???
apa suatu keberhasilan juga berarti campur tangan Allah???
11 Agustus 2009 at 22:04
Nah kalau yang udah terjadi gimana? misal pengebomam di JW Marriott, jika tuhanmu gak suka kekerasan mengapa tuhanmu biarkan mereka melakukan bom bunuh diri?
11 Agustus 2009 at 22:26
lah…..
Teroris yang mau ngebom SBY juga dah ketangkep….
kan itu udah terjadi???
apa itu gak membuktikan bahwa Tuhan tidak menyukai kekerasan???
priben to mas????
13 Agustus 2009 at 02:13
Masalah berhasil atau tidak berhasil itu batasnya langit dan dasar samudra. Apa yang anda anggap ketidakberhasilan bisa saja sebenarnya itu jalan untuk keberhasilan. Bisa saja memang ketidakberhasilan.
Apa yang anda anggap keberhasilan bisa saja racun di masa depan. Siapa yang tahu masa depan, karena itu kita tidak bisa menghakimi keberhasilan/ketidakberhasilan.
Apakah keberhasilan/ketidakberhasilan itu dari Tuhan ??? Ya bisa saja, tetapi mau dianggap apa tergantung persepsi masing2. Karena toh kita tidak tahu masa depan. Keberhasilan bisa saja anugrah bisa juga tidak, demikian juga sebaliknya. Tetapi bagaimanapun manusia juga memiliki pilihan.
Karena itulah saya katakan ada sisi internal dan eksternal.
Apakah alloh tahu sejarah kelahiran diri-Nya? atau anda (Mr Love) bisa mewakili alloh untuk menjawabnya?meskipun aku rasa alloh tak butuh bantuanmu sayang………===> Ya pasti nggak butuhlah. Aku njawab itu bukan untuk membantu Tuhan sayangku cintaku, aku menjawab itu untuk membantu kamu. Kasihan saja kalo kamu ngomel sendiri nggak ada yang nanggepin. Hik hik hik. Ntar bisa stress kamu kalo kamu ngomong sendiri dicuekin kanan kiri. Cuma itu saja sih intinya. Lagi seneng saja nanggepi makhluk hidup antik model kamu itu. Karena kamu tak apresiasi jadi yah tak komentari jugalah.
SALAM
10 Agustus 2009 at 09:34
@lovepassword
@Mas Prayit : Bagus..bagus..lebih baik kalian pacaran disini daripada membuat huru hara di sana.
Jadi @biru ini perempuan yach? Saya kira laki loh selama ini.
Saya jelaskan dulu nih, saya bukannya merasa tidak nyaman dengan suprayitno, tapi kita beda pendapat kan sudah jelas. Saya hanya tidak ingin perbedaan pendapat tersebut dibawa berlarut-larut.
11 Agustus 2009 at 19:39
@mba fietria
saya tuh cowok tulen loh…
mas LP tuh memang guru sastra…
jadi setiap tulisannya jangan langsung dimaknai harfiah….
heheehehe
maksudnya….
dari pada pacaran (baca: debat) di tempat mbak fietria,
jelas lebih enak ditempat sendiri kan???
xi xi xi xi
13 Agustus 2009 at 02:05
Wah Mbak Pit Pit ini memang semangat bener kalo denger ada orang pacaran. Ha ha ha.
13 Agustus 2009 at 18:42
Hihihi cuma becanda lho….kok dianggap serius….hihihi
maaf deh maaf
12 Agustus 2009 at 21:39
@biru :lah…..
Teroris yang mau ngebom SBY juga dah ketangkep….
kan itu udah terjadi???
apa itu gak membuktikan bahwa Tuhan tidak menyukai kekerasan???
priben to mas????
yang mau ngebom SBY kebetulan bisa ketangkep sehingga SBY tidak jadi dibom.
lha bom-bom lainnya yang meledak hampir tiap hari di seluruh dunia yang kesemuanya diledakkan oleh para teroris itu bagaimana?
kok tuhanmu membiarkan kejahatan itu terus berlangsung? padahal katamu alloh tidak menyukai kejahatan, ya harusnya berbagai macam kejahatan di dunia ini bisa dihapuskan karena tidak sesuai dengan kehendak tuhan. Ada kontradiksi kan, jika tuhan berkendak A tetapi mengapa yang terjadi justru B.
kamu mudeng gak sih dengan pertanyaanku?
13 Agustus 2009 at 06:03
gini loh mas sup….
anda mengeluarkan tesis
Tuhan menyukai kejahatan
buktinya bom dari para teroris terus meledak….
saya memperlihatkan antitesisnya pada anda…
Tuhan tidak menyukai kejahatan
buktinya banyak bom yang bisa digagalkan oleh polisi….
nah…
sekarang tinggal cari antitesis nya…
mudeng gak seh mas???
ini kan metoda yang sedang anda gunakan?
23 Agustus 2009 at 03:17
@Biru berkata :Tuhan tidak menyukai kejahatan
buktinya banyak bom yang bisa digagalkan oleh polisi….
@suprayitno menjawab :
Bagaimana dengan bom yang TIDAK BISA DIGAGALKAN OLEH POLISI?? sehingga menimbulkan banyak korban harta benda dan nyawa yang tidak berdosa???
24 Agustus 2009 at 10:41
mas sup….
pointnya adalah….
teori tesis dan antitesis memiliki kelemahan mendasar …..
siapa yang mengeluarkan antitesis terakhir dialah yang akan unggul dalam mengeluarkan sintesis…
ini tulisan anda…
Tesis : Tuhan menyukai kejahatan
buktinya bom dari para teroris terus meledak….
Ini tulisan saya…
Antitesis : Tuhan tidak menyukai kejahatan
buktinya banyak bom yang bisa digagalkan oleh polisi….
nah..
anda malah membalikkan rumusnya….
jadi gini
Tesis : Tuhan menyukai kejahatan
buktinya bom dari para teroris terus meledak….
Antitesis : Tuhan tidak menyukai kejahatan
buktinya banyak bom yang bisa digagalkan oleh polisi….
Anti-Antitesis : Bagaimana dengan bom yang TIDAK BISA DIGAGALKAN OLEH POLISI?? sehingga menimbulkan banyak korban harta benda dan nyawa yang tidak berdosa???
liat???
rumus2 kayak gini gak akan pernah berhenti mas….
hasil akhirnya sangat tergantung pada siapa yang mengeluarkan pernyataan terakhir…
dengan arti kata lain…
menemukan kesatuan kontradiksi (sintesis) adalah mustahil..
13 Agustus 2009 at 01:59
Sebab Tuhan memberikan pilihan gicu lho. Hik hik hik
23 Agustus 2009 at 03:37
Jika tuhan memberikan pilihan, berarti manusia punya otonomi untuk berbuat baik atau jahat, kenapa tuhan HARUS campur tangan? dengan membuat begitu banyak aturan dari tata cara menyembah yang disukai-Nya dan hukum pidana?
suka ngatur-ngatur manusia harus beginilah harus begitulah? biarkan aja kehidupan berjalan dengan rasionya sendiri.
ini mungkin bukti bahwa sesungguhnya yang suka ngatur-ngatur itu bukan tuhan, melainkan jelas-jelas para nabi –kalau dalam islam ya muhammad itulah the real God!!– yang mengatasnamakan WAHYU TUHAN.
aku mikirnya gitu, makanya aku sama sekali tidak percaya pada wahyu-wahyu itu.wahyu itu produk pemikiran atau wujud kehendak para nabi yang mengatasnamakan tuhan.
Kalau ribuan tahun lalu, msih banyak orang yang bisa kena sihir/hipnotik muhammad mungkin bisa kita maklumi, tapi mengapa di jaman modern seperti sekarang ini masih juga banyak yang percaya?
muhammad sudah mati tetapi hipnotiknya tetap terus bekerja abadi, ini lho yang hingga sekarang aku sulit mencari jawabannya, ADA APA DENGAN MANUSIA? termasuk dengan Mr Love, Biru, Fietria dan bermilyar teman-teman lainnya?
24 Agustus 2009 at 11:01
mas sup…
orang2 seperti anda bukanlah yang pertama…
silahkan liat ini….
mereka mengaku sebagai para pencari Tuhan..
mengesampingkan jubah2 keagamaan mereka, bahkan menghina Ajaran Agama mereka sendiri
(silahkan ditonton)..
……
secara pribadi,
bagi saya silahkan saja anda atau siapapun berusaha ingin mencari Tuhan selain pilihan Tuhan (baca : agama) yang telah ada saat ini…
tapi..
gunakan bahasa dan aturan yang beradab….
bila perlu….
carilah Tuhan seorang diri dan jangan melibatkan umat lain…
jika anda merasa saya “keras” pada anda…
saya mohon maaf…
sejujurnya, ketika pertama kali membaca postingan anda, saya memiliki praduga bahwa anda adalah “Suprayitno” yang sedang gencar2nya menyebarkan ajaran Spritualis Kejawen…
(mohon maaf bila anda ternyata suprayitno yang lain)
jadi…
menurut saya, sangatlah munafik jika seseorang yang mengaku telah “menanggalkan jubah keagamaannya” tapi dibalik itu memiliki niatan untuk mengarahkan para peserta diskusi pada kesimpulan yang telah dia dapat….
(melalui pencariannya yang belum tentu benar)
manusia diberi akal….
apakah kita (umat Muslim) begitu saja menerima agama islam dari orang tua tanpa berpikir??
sangat bodoh jika anda menggeneralisir umat muslim seperti itu…
bertanya dan berpikir merupakan hal yang dianjurkan dalam Islam…
sungguh, tidurnya orang yang berilmu lebih mulia dari pada ibadahnya orang yang tidak berilmu….
apakah anda pikir semua muslim shalat atau puasa hanya karena perintah turunan saja?
kalo anda berpikir seperti itu kayaknya naif deh…
banyak sekali muslim yang mempertanyakan mengapa shalat??
mengapa puasa?/
mengapa haji??
dll…
terakhir…
perihal tantangan menciptakan Quran…
saya tidak menanggapi lebih lanjut karena saat ini memasuki bulan Ramadhan..
saya khawatir, yang saya lakukan pada anda (menantang anda) bukan karena ibadah, melainkan karena nafsu semata…
terkecuali jika anda sekedar ingin mengetahui bagaimana saya memandang Al Quran sebagai mu’zizat dan karenanya saya percaya tidak ada satu (atau sekumpulan) makhluk pun yang mampun membuatnya…
saya dengan senang hati akan mencoba memperlihatkannya..
salam.
26 Agustus 2009 at 19:49
Mas biru, jika anda perhatikan banyak orang lho yang bisa membuat rajah/ayat-ayat yang memiliki nilai ghoib/mujizat. Ada ayat-ayat yang dibuat dalam huruf-huruf china, jawa atau tulisan-tulisan arab.
ayat-ayat itu atau rajah itu biasanya dipasang di atas pintu, atau di masukkan dalam ikat pinggang.
Konon ayat-ayat itu memiliki mujizat yakni membuat sesorang menjadi sakti atau untuk keselamatan.
24 Agustus 2009 at 19:52
Jujur saya katakan, saya tidak sedang mengemban misi untuk menyebarkan paham kejawen atau apalah.
Saya hanya ingin tahu,karena saya melihat banyak manusia yang akhirnya menjadi “budak” agama. Padahal seharusnya dengan akal manusia bisa menciptakan tuhan dan agamanya sendiri, sebab tidak ada tuhan dan agama tanpa akal/pikiran. Anda tidak bisa membantahnya kan?
Orang gila (skizofrenia) itu jelas hilang akalnya, makanya tidak mungkin dia bisa menciptakan peradaban, dan tidak mungkin bisa berpikir tentang tuhan, dosa, halal, haram bahkan berpikir tentang siapa dirinya pun pasti tak mampu.
Saya hanya ingin menggunakan akal untuk berpikir yang lebih baik, dan menanyakan kembali (reinterpreting) tentang kebenaran agama beserta tuhan yang diusungnya, bagi saya merupakan awal dalam hal menghargai akal sehat kita.
Meskipun boleh jadi para pemimpin agama akan mengatakan aku kafir atau sesat yang kelak akan dilaknat oleh allah dan pasti “diancam” untuk dikubur dineraka selama-lamanya.
Jika anda tidak sependapat, silakan saja. Mari kita uji akal kita dihadapan “kenyataan”, bukan dihadapan mistisisme.
Ok mas biru, salam I Love u forever
26 Agustus 2009 at 13:10
@suprayitno
Sayang anda tidak punya blog. Kalau memang ajaran yang anda kemukakan adalah benar, lebih baik ditulis dalam blog. Lalu kita akan melihat siapa yang akan mendukung anda dan siapa yang tidak mendukung anda. Walaupun menjadi budak agama, bukankah yang diajarkan adalah kebaikan? Sama halnya peraturan dan UU hukum yang diciptakan di negeri ini, hanyalah untuk mengatur manusia menjadi lebih baik. Coba anda bayangkan jika tidak ada peraturan dan UU hukum, maka dipastikan rumah anda dirampok dan keluarga anda dibunuh karena tidak ada hukum yang melindungi rakyatnya. Begitu pula agama yang diturunkan Allah adalah untuk mengatur manusia untuk lebih beriman. Coba kalau tidak ada agama, mungkin semua manusia kembali menyembah berhala dan menyediakan anak gadis untuk dikorbankan atau tumbal.
26 Agustus 2009 at 19:14
SEANDAINYA TIDAK ADA AGAMA
Oleh : Suprayitno
Warisan sejarah ribuan tahun lalu yang hingga kini masih terus dipelihara bahkan ada kalanya institusi negara telah menggunakannya sebagai falsafah dan dasar hidup bangsa diantaranya adalah agama. Agama merupakan produk masa lalu yang dihasilkan oleh orang-orang yang bergelar rasul atau nabi. Para nabi menyatakan dirinya merupakan utusan dari Allah bahkan ada salah satu agama yang terang-terangan menyatakan bahwa pemimpinnya merupakan “jelmaan dari tuhan”.
Penjelasan secara logika tidak penting. Karena, “bahan bakar” yang digunakan oleh agama memang bukan pertama-tama bersumber pada “nalar” tetapi bersumber pada “keimanan”. Tanpa keimanan semua agama akan musnah. Satu hal yang sangat berbeda dengan “ilmu pengetahuan” dimana dalam ilmu pengetahuan justru rumusannya menjadi terbalik. Yaitu tidak mementingkan keimanan namun kunci ilmu pengetahuan adalah logika dan dasarnya adalah fakta, demikian menurut Aristoteles.
Dalam bursa agama tentu berseliweran segala macam cerita yang penuh dengan “keganjilan-keganjilan”. Semakin satu agama dapat merangkai kabar dari surga atau dari neraka secara lebih spektakuler, maka umatnya semakin tidak diberikan kesempatan bertanya melalui logika. Mereka hanya diwajibkan menerimanya dengan keimanan tanpa diberikan sedikit pun ruang untuk dialektika. Walaupun adakalanya, agama juga berbicara mengenai hal-hal konkrit kehidupan yang bisa diterima oleh akal. Tetapi anehnya, lebih banyak pengikut agama yang menikmati untuk menenggelamkan dirinya dalam lautan mistis. Ideologi mistis inilah justru yang menjadi biang keladi terhadap munculnya tindakan-tindakan kekerasan dan berbagai prilaku neurosis yang berakibat pada pemujaan-pemujaan terhadap berbagai ragam dewa dengan aneka cara ritualnya. Ada yang menggunakan media bunga-bungaan, dupa atau kemenyan yang dibakar, kepala kerbau yang dilarung dalam laut, babi yang dipanggang dan sebagainya. Ada yang fanatik menggunakan baju berwarna kuning, warna putih, warna hitam, kotak-kotak dan sebagainya.
Antara Ide dan Common Enemy
Agama memiliki andil yang cukup besar dalam “runyam kehidupan”. Mengapa? Sebab, setiap konsep pemikiran, termasuk konsep keagamaan pada akhirnya akan menuju pada satu titik ekstrem dimana hanya disediakan dua pilihan, yakni kamu ikut golongan saya atau saya akan menempatkan Anda sebagai “outsider”. Outsider dalam agama kemudian diberi stigma khusus. Agama perlu menciptakan common enemy (musuh bersama) untuk mengeliminir mana yang termasuk golongan saya dan mana yang tidak sealiran dengan saya. Common enemy dalam agama diidentifikasikan sebagai “kafir”. Akhirnya agama boleh bertindak apa saja terhadap orang-orang yang telah diidentifikasi sebagai kafir. Perang terhadap golongan orang kafir dalam Islam jelas terlihat pada Qur’an Surat An-Nisa (QS:4) ayat 89.
Orde baru juga memiliki common enemy yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI). Sehingga orde baru pun boleh membunuh warga komunis tanpa melalui pembelaan hukum. Ratusan ribu orang telah dibantai oleh rezim Orde Baru di bawah Soeharto. Di sisi lain komunis juga memiliki common enemy yaitu “kapitalism”, sehingga betapa bencinya komunisme pada golongan borjuis. Mao Tse Tung tokoh komunisme China telah menghabisi 30 juta orang sesama warganya yang menentang. Pada tahun 1970-an komunis Khmer Merah membantai 1,7 juta sesama bangsa Kamboja (Kompas,8/1/06).
Gagasan sosialisme komunis berawal dari Karl Marx dan Engels. Marxisme memberi dasar-dasar sosialisme bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada bidang ekonomi dengan meninjau cara berproduksi dan mendistribusikan harta milik. Ketidakseimbangan produksi dan distribusi harta milik akan mengakibatkan terciptanya sebuah kelas yang berkuasa sementara di sisi lain tercipta kaum proletariat (kaum buruh).Dengan demikian, komunisme menempatkan kapitalisme sebagai common enemy yang harus diperangi.
Jadi setiap pemikiran atau konsep sosial yang pada akhirnya melahirkan suatu paham, selalu dicari common enemy. Musuh bersama itu perlu diciptakan agar ada justifikasi “pemberangusan” bagi orang-orang atau golongan yang menentangnya. Baik atau buruk sebuah teori atau gagasan sosial menjadi sangat nisbi karena untuk eksis dua-duanya selalu berusaha menciptakan musuh bersama, yang boleh dibunuh kapan saja. Target dari sebuah ideology/paham atau agama bermuara pada “kekuasaan”, sebab hanya dengan kekuasaanlah suatu paham/agama bisa eksis. Tanpa kekuasaan yang dibangun melalui berbagai cara, mustahil suatu gagasan atau ide bisa di wujudkan dalam dunia nyata seperti yang di cita-citakannya. Cara berkuasa itu bisa melalui bujukan (pendekatan persuasive) atau paksaan (represif) dan bisa atas nama rakyat atau berdasarkan “wahyu tuhan”. Sang penguasa bisa bernama Nabi, Presiden, Raja, Sultan, Kaisar, Kanselir atau mungkin ada sebutan lainnya.
Hidup lebih banyak “dipecah” oleh pertarungan ide dan identitas, yang ujung-ujungnya sebenarnya merupakan perburuan pada kepentingan “perut” dalam arti luas. Perut sebagai gambaran tempat menampung seluruh nafsu duniawi (ekonomi, prestige/pengaruh, kekuasaan, dan seks). Ide agama maupun ide politik merupakan ide “tidak nyata yang dinyatakan”. Agama dan politik sebenarnya hanya “omong kosong” belaka. Karena perwujudan yang ideal dari agama maupun politik “tidak pernah ada”. Yang ada sepanjang masa hanya berupa klaim. Klaim bahwa hanya paham dirinyalah yang paling sempurna. Hal ini untuk menutupi kedok yang sesungguhnya yaitu kepentingan perut.
Demi perburuan isi perut, akhirnya yang mengaku orang baik akan berhadapan dengan musuh yang diidentifikasikan sebagai orang jahat. Demikian juga sebaliknya, musuh orang jahat adalah orang baik. Klaim baik dan jahat, sempurna dan tidak sempurna membuat manusia saling merendahkan, saling menghina, saling membunuh dan membinasakan. Baik dan jahat menjadi sangat tipis batasnya, karena dua-duanya akan selalu berusaha saling “mengalahkan”. Dimana dalam usaha mengalahkan ini akan timbul pertempuran yang dahsyat yang akhirnya menelan korban nyawa dan harta benda. Nyawa dan harta untuk keduabelah pihak yaitu orang-orang baik maupun jahat akan sama-sama menjadi korban. Pertarungan memenangkan ide agama maupun ide politik, sangat nyata telah membawa banyak korban yang sia-sia sepanjang masa.
Pertarungan Identitas
Tidak kalah mengerikan adalah pertarungan identitas. Pertarungan identitas telah melahirkan politik apartheid yaitu politik yang dilaksanakan oleh pemerintah Afrika Selatan yang dipimpin oleh Dr Daniel Francois Malan. Dr Malan memaksakan disetujuinya undang-undang yang memisahkan kehidupan kulit putih dengan kulit hitam dengan cara kelompok Negro tidak memiliki hak suara dalam pemilihan anggota dewan.
Politik identitas juga melanda bangsa Indonesia yaitu bagaimana sulitnya bagi waga China untuk bergabung dalam tubuh militer maupun pegawai negeri. Di Aceh ada gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang tentu saja akan berusaha membentuk negara tersendiri yang akan memberikan hak khusus untuk orang-orang Aceh. Di Papua juga ada semangat untuk memerdekakan diri. Papua untuk rakyat (etnik) Papua bukan untuk penduduk dengan warna kulit yang lebih terang.
Politik identitas juga pernah memakan korban nyawa yang tidak sedikit yaitu ketika Naziisme mengadakan “pembersihan” terhadap orang-orang Yahudi. Dalam peristiwa genocide tersebut, Nazi dibawah Hitler telah membunuh 6 juta warga Yahudi dan sedikitnya 2 juta warga Polandia. Dari tahun 1915 hingga 1923, penguasa Ottoman di Turki membunuh lebih darti 1,5 juta orang Armenia. Di tahun 1980-an dan awal 1990-an, Partai Baath yang dipimpin Saddam Hussein membunuh 100 ribu orang suku Kurdi.
Kekuatan militer pimpinan suku Hutu di Rwanda menghabisi 800 ribu orang suku minoritas Tutsi pada 1990-an (Kompas,8/1/06).
Politik Identitas melahirkan budaya, sehingga ada Budaya Timur dan Budaya Barat. Lagi-lagi politik identitas telah melahirkan segregasi baik dan buruk. Budaya Timur mengklaim sebagai lebih unggul karena lebih menggunakan tata rasa. Sebaliknya budaya Barat memproklamirkan sebagai paling hebat karena basisnya menggunakan olah pikir (dialektika). Di sini tampak sifat-sifat original manusia yang menyerupai hewan. Animal instinct melekat kuat pada kelompok manusia karena manusia cenderung akan lebih nyaman jika berkumpul dengan sesama suku, warna kulit, sama-sama dalam satu ideology, kebudayaan dan agama. Perbedaan yang paling mencolok dalam animal instinct ini terletak pada sifat koeksistensinya. Contoh, pada dunia binatang antara komunitas semut merah dan semut hitam, meskipun makanan mereka sama tetapi (menurut pengamatan saya) komunitas semut ini tidak pernah saling bertempur menghabisi lawan demi memperebutkan makanan. Mereka juga tidak pernah berperang untuk saling membunuh dan membinasakan salah satu warna kulit. Misal, semut hitam tidak pernah berperang mengadakan pembersihan terhadap golongan semut merah. Koeksistensinya berjalan baik meskipun mereka masing-masing tetap mempertahankan komunitasnya. Prilaku semut (binatang) dalam hal ini jauh lebih beradab daripada manusia.
Hegemoni animal menempatkan fenomena kekuasaan Singa sebagai superioritas atas hewan-hewan lainnya di dalam kerajaan hutan. Namun, bagi Rusa, Kijang, Kuda dan binatang-binatang lainnya yang selalu diburu oleh singa, justru menempatkan singa sebagai binatang paling jahat. Singa memang jagoan dalam hal menaklukkan mangsa-mangsanya, tetapi jika yang tersedia hanya hamparan rumput dan dedaunan maka sehebat apa pun singa itu pasti akan mati. Karena, dalam keadaan terpaksa pun tidak mungkin Singa akan merumput seperti kerbau. Hal ini menunjukkan tak ada superioritas sejati di dunia ini. Yang ada hanyalah “lingkaran” kehidupan untuk saling tergantung.
Pertanyaan yang menarik adalah “siapa sebenarnya manusia itu?” Manusia jelas bukan hewan, namun mampukah manusia dengan akal dan budinya menghancurkan mitos-mitos agama, politik dan identitas? Mampukah manusia menanggalkan politik kekuasaan dan politik identitas? Mampukah manusia membebaskan diri dari penjara yang terus merangkeng pada fanatisme agama? Untuk apa sebenarnya agama? Apakah tanpa agama kehidupan akan menjadi lebih buruk? Atau sebaliknya, justru karena agamalah kehidupan semakin tambah runyam? Apakah untuk memahami kebesaran dan kasih sayang Tuhan harus melalui pintu agama? Siapa yang mengharuskan?
Dalam ranah politik, kita pun bisa menanyakan persoalan yang mendasar misalnya, adakah praktik politik yang tidak menindas? Adakah praktik politik yang benar-benar mengayomi seluruh umat manusia untuk saling menghidupi bukan saling memeras dan menipu? Adakah real politik yang benar-benar menempatkan semua manusia sama di depan hukum?
Mitos Agama dan Politik
Manusia seperti rayap, yang sangat rakus memakan “soko tunggal”. Soko Tunggal adalah payung kehidupan semesta. Soko Tunggal yang dimakan rayap akan tampak utuh dari luar, tetapi keropos di dalamnya. Soko Tunggal itu dimakan dengan sangat rakus dan membabi buta hingga suatu saat akan terjadi berbagai malapetaka kehidupan yang akan menimpa seluruh manusia. Yaitu, ketika soko tunggal itu telah benar-benar runtuh karena tak sanggup lagi menahan beban kemunafikan, egoisme identitas, egoisme agama, egoisme politik, dan egoisme ekonomi.
Soko tunggal seharusnya menjadi pilar bersama agar seluruh gagasan dan tingkah laku manusia tetap dalam keseimbangan. Sehingga tidak ada istilah “gegeden empyak kurang cagak” atau dalam bahasa Indonesia dikatakan lebih besar pasak daripada tiang. Pasak diibaratkan sebagai kehendak tak terbatas manusia untuk menguasai apa saja yang sekiranya dapat memuaskan syahwat duniawinya. Sedangkan soko tunggal adalah idealisme manusia yang mencoba berdiri tegak dan memberi jalan terang bagi pemikiran-pemikiran hitam kehidupan. Tanpa idealisme, hidup kita bagaikan rumah tanpa penyangga yang kokoh. Akhirnya kita akan tertimpa oleh atap yang kita bangun sendiri. Contoh kongkritnya adalah, ketika kita sangat rakus mengeksploitasi alam tanpa prinsip recovery untuk kesinambungan kehidupan, maka yang terjadi adalah malapetaka massal. Kita akan mati bersama dalam kehancuran ekosistem.
Mari kita runtuhkan mitos agama dan runtuhkan mitos politik. Kita bangun “ide” yang memungkinkan tidak terjadi lagi dikotomi yang melahirkan common enemy. Sebab kita tahu, dari waktu kewaktu, agama maupun politik telah banyak memakan korban sia-sia. Korban-korban itu berjatuhan sebagai akibat usaha menegakkan “kebenaran semu” yang terus menerus diajarkan oleh para pemimpinnya. Apakah yang dimaksud kebenaran semu? Kebenaran semu adalah kebenaran yang memperebutkan “kulit”. Apakah kulit kebenaran? Kulit kebenaran yaitu system “kebenaran” yang ditegakkan dengan cara-cara diktatorisme (menggunakan hukum “pokoknya”), tanpa dialektika, tanpa pengujian yang komprehensif, tanpa demokratisme, tanpa nalar yang kronologis dan sistematis (sesat pikir).
Kalau begitu dimanakah letak kebenaran sejati? kebenaran sejati berada pada tempat yang sangat tinggi atau sangat jauh dengan jalan yang sangat berliku-liku. Sehingga, mustahil kita bisa dengan mudah mendapatkannya hari ini. Tidak perlu tergesa-gesa dalam mencari kebenaran sejati. Sebab, jika tergesa-gesa maka kita akan kembali terperangkap pada “kulit kebenaran”. Seperti apa kebenaran sejati? Mari kita bersama-sama berusaha menelusuri, mencari dan menemukan dengan beberapa syarat yaitu diperlukan kecerdasan, kesabaran, keikhlasan, tenggang rasa, kerja keras, pengorbanan, saling megulurkan tangan untuk bekerja sama dalam kebaikan dan terbuka pada gagasan orang lain. Pertanyaannya, bisakah kita membangun ide tanpa “musuh” dan tanpa dimusuhi? Rasanya mustahil. Tetapi jika mustahil lantas apa yang mesti kita kerjakan?
Hidup ternyata sangat rumit, tidak bisa disampaikan secara hitam putih. Karena sebenarnya “warna” manusia adalah warna pelangi, bukan hitam putih. Ketika warna-warni itu berebut untuk disebut yang paling indah dan sempurna, maka warna indah pelangi tidak akan pernah tercipta. Pelangi akan tercipta jika masing-masing saling menghargai dan menghormati.
Sekarang yang tersisa tinggal “keyakinan” dan saling menghormati pada masing-masing keyakinan. Benar dan salah menjadi sangat subyektif yaitu tergantung pada keyakinan mana kebenaran itu dipandang. Namun prinsip ini bukannya tanpa menghadirkan pertentangan. Sebab inilah bahayanya ketika kita memandang benar dan salah dari sudut pandang “keyakinan” an sich. Apa pun keyakinan (keimanan) kita, bisa benar bisa juga salah. Bisa menyesatkan, tetapi bisa juga memberi penerangan. Persoalannya, bagaimana cara mengeliminasi sehingga “keyakinan benar” kita adalah merupakan kebenaran yang tidak menyesatkan?
Beranikah kita menguji kebenaran keyakinan (keimanan) kita berdasarkan fakta bukan mitos? Beranikah kita menguji kebenaran keyakinan kita melalui “laboratorium logika”, akal-budi? Jika berani mungkin semua proposisi tentang theologisme akan tumbang karena agama pasti akan kesulitan dalam membuktikan Tuhan sebagai Maha Pencipta. Bagaimana mungkin sesuatu yang “abstrak” menciptakan sesuatu yang “riil”, lalu bagaimana cara menciptakannya? Betapa pun hebatnya kekuatan angin (angin adalah benda abstrak), tidak mungkin angin bisa “mencipta” sebuah sepeda. Betapa pun cerdasnya setan atau jin, jelas tidak mungkin mereka memiliki kekuasaan untuk mencipta. Tuhan, setan, jin, malaikat dan beragam “benda-benda gaib” lainnya masuk dalam kelompok takson benda-benda abstrak, ada sebutannya tetapi tidak ada wujudnya. Lalu untuk mencapai gambaran yang mampu melahirkan “keteraturan kehidupan” dari nama-nama tersebut kemudian diberi tanda, yakni tanda baik dan buruk, pencipta dan yang diciptakan, yang sempurna dan tidak sempurna, yang maha kuasa dan yang dikuasai.
Tuhan diberi tanda sebagai sang maha baik dan setan diberi tanda sebagai sang jahat, Tuhan diberi tanda sebagai pelindung sedangkan setan sebagai penggoda atau penjerat kedalam tindak kejahatan. Mengapa tuhan tidak dibalik diberi tanda sebagai si jahat? Apalah arti sebuah nama, tuhan dan setan sama-sama hanyalah penanda bukan? Dalam dunia gaib, nama tidaklah terlalu penting sebab yang lebih penting adalah sejauh mana kita bisa menghadirkan sosok-sosok gaib tersebut hingga benat-benar menyerupai apa yang kita yakini/bayangkan.
Kebenaran agama atau keyakinan lebih banyak bertumpu pada “hukum pokoknya”. Sebab, epistemologi agama dibangun dari reruntuhan mitologi dan mistisisme, yang terus diajarkan tanpa adanya prisnsip-prinsip keseimbangan. Dalam transfer kebenaran agama atau keyakinan tidak terjadi saling mencari pada kedudukan yang setara (egaliterisme), melainkan “kebenaran” itu milik sang pemimpin yakni para nabi, ulama atau pendeta. Sang pemimimpinlah pemegang otoritas tunggal kebenaran yang biasanya dikuasai oleh mayoritas kaum laki-laki. Kaum laki-laki itulah yang biasanya menjadi penentu “benar atau salah” dalam banyak urusan.
Penutup
Agama Nasrani sering menyebut “rencana Tuhan”, mari kita bangun logika. Rencana adalah suatu harapan atau keinginan tentang sesuatu yang hendak dicapai. Dengan demikian setiap perencanaan, tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan. Setiap rencana, bisa gagal bisa berhasil. Di sisi lain, Tuhan Maha Kuasa, maka seharusnya Tuhan tidak pernah gagal. Jika Tuhan tak pernah gagal maka namanya bukan “rencana Tuhan” tetapi merupakan “ketetapan” Tuhan. Hanya manusia yang tukang perencana, sedang Tuhan tidak pernah berencana. Apa perlunya Tuhan punya planning (rencana) jika semua bisa dikerjakan dengan “jadilah” maka sesuatu pasti terjadi?
Tuhan Maha Baik, pertanyaannya apakah seluruh ketetapan Tuhan terhadap umatnya adalah “hanya yang baik”? Sesuatu yang tidak ditetapkan oleh Tuhan bisakah menjadi kenyataan? Jika Tuhan hanya menetapkan kebaikan, mengapa pada “kenyataannya” banyak kejahatan dan keburukan di muka bumi ini? Siapa yang menetapkan keburukan? Setan, manusia atau Tuhan?
Mari kita bangun logika yaitu bahwa fakta, manusia bisa merencanakan hal-hal yang baik atau buruk. Di sisi lain berdasarkan keyakinan banyak agama berkata bahwa manusia hanya bisa merencanakan sedang yang menentukan adalah Tuhan. Apakah keburukan yang terjadi pada manusia adalah termasuk yang ditetapkan oleh Tuhan? Jika seseorang merencanakan perampokan atau pembunuhan terhadap orang yang tidak bersalah, siapa yang menentukan atau menetapkan keberhasilannya? Manusia itu sendiri, setan atau Tuhan? Jika Tuhan hanya menetapkan yang baik-baik saja, berarti Tuhan kalah dengan pilihan manusia, sebab pilihan manusia jauh lebih banyak daripada Tuhan. Mungkinkah pilihan dan ketetapan Tuhan kalah dengan manusia?
Tuhan maha kuasa, begitu kata agama. Maka tidak mungkin kuasa Tuhan kalah dengan kuasa manusia. Jadi…, ya sangat aneh dengan kemahakuasaannya. Jika kejahatan dan keburukan ditetapkan oleh manusia, maka aneh karena Tuhan tidak bisa melawan ketetapan kejahatan yang dilakukan oleh manusia.
Barangkali selama ini banyak kesalahan manusia dalam memaknai dan menilai (menafsir) terhadap Tuhannya. Mari kita coba merenung, apa kepentingan Tuhan terhadap agama? Seandainya tidak ada agama, apakah Tuhan bersedih atau sebaliknya Tuhan justru bergembira? Siapakah yang menghendaki (mencipta) kelahiran agama, Tuhan ataukah manusia? Benarkah semua tafsir yang diberikan oleh agama-agama terhadap sifat-sifat Tuhan? Bagaimana manusia atau agama bisa memiliki “pengetahuan” tentang sifat-sifat Tuhan? Benarkah semua itu merupakan pengetahuan yang benar? Atau hanya sekadar halusianasi dan mimpi?
Jawaban yang “benar” pasti sangat sulit kita dapatkan. Tetapi pertanyaan itu paling tidak bisa membuat kita berpikir tentang “sejatining (sesungguhnya) Gusti Allah, sejatining alam semesta, sejatining manungso, sejatining hurip/sangkaan paraning dumadi (hidup), sejatining agama, dan sejatining bener”. Maka suka tidak suka kita akan berselancar dalam samudra filsafat. Kebenaran itu sangat indah sebab dia menyebabkan kita menjadi bijaksana dalam segala hal.
Demikian Fie yang bisa aku ungkapkan, memang sangat panjang sebab aku mencoba mengulasnya secara lebih utuh.
Matur suwun, salam cinta!!!!!
30 Agustus 2009 at 06:23
@Mas Prayit : Hi Hi Hi ternyata dikau masih suka bercanda. Mari kita uji akal kita dihadapan “kenyataan”, bukan dihadapan mistisisme.
Bahkan apa itu kenyataan juga bukan sesuatu yang mudah didefinisikan Hi Hi Hi.
Alkisah di dalam cerita Zen dikisahkan Ada seorang yang bermimpi menjadi kupu-kupu. Setelah bangun dia berpikir : Apakah dia manusia dalam tubuh kupu-kupu atau kupu-kupu dalam tubuh manusia. Nggak usah dipikir tenanan ya? Ini cuma intermezo.
Masalah common enemy , saya lumayan setuju dengan anda.
Secara sosiologis , manusia itu bisa lebih kompak bila mempunyai semacam musuh bersama.
Apa yang semestinya dijadikan musuh bersama ? Ya misalnya saja kebodohan, kemiskinan, penderitaan, ketidakadilan dsb.
Tetapi itu semua tidak riil. Orang miskin itu riil, tetapi kemiskinan itu sendiri kan tidak riil.
Karena mengatasi musuh2 seperti itu sulit, dan tampaknya tidak akan terlalu populer, maka ada semacam ide untuk menciptakan musuh bersama yang lebih riil.
Yang berbahaya dari ini adalah : Seorang Nasionalis bisa membuat musuh bersama Negara lain atau ideologi lain misalnya – sekedar agar bangsanya kompak. Seorang yang merasa religius bisa menciptakan musuh bersama kelompok agama lain, entah beda agama atau beda aliran.
Tujuannya ukhuwah, persatuan persaudaraan tetapi ukhuwah itu diadakan dengan cara mencari semacam target sasaran agar kelompoknya entah itu kelompok seagama atau bangsanya kompak. Lebih berbahaya lagi bila ini ditunggangi oleh kepentingan pemimpin kelompoknya , bisa lebih runyam lagi.
Lha harus diakui di dalam banyak kelompok memang ada semacam konsep Musuh bersama. Tetapi ini bukan cuma kelompok agama saja.
========================================
Betapa pun hebatnya kekuatan angin (angin adalah benda abstrak), tidak mungkin angin bisa “mencipta” sebuah sepeda.
===>
Pernyataanmu ini sungguh netral. Ha Ha ha
Atheis bisa saja memakai logikamu atau yang lebih dikenal dengan Teori Boeingnya Richard Dawkins.
Tidak mungkin angin mencipta sepeda, yah tentu saja itu benar. Perkataanmu bener 120% kali ini. Karena itulah di blog2 ateis saya juga mengatakan hal yang sama.
Tidak mungkin serangkaian kebetulan demi kebetulan bisa menciptakan pesawat terbang.
Angin pertama mungkin memasang roda pada rangka sepeda, angin berikutnya memasang sadel sepeda, angin berikutnya lagi secara kebetulan tepat memasang stang sepeda. Dan seterusnya sampai kemudian terciptalah sebuah sepeda dari serangkaian kebetulan demi kebetulan. Hi Hi Hi. Dawkins, I lap yu. Ha ha ha.
Yang di atas itu logika para ateis . Kalo saya sih :
Jauh lebih masuk akal bagi saya bila sepeda itu diciptakan oleh pencipta yang cerdas daripada ada angin lewat berulang kali secara acak kemudian menciptakan serangkaian kebetulan demi kebetulan yang tidak ada perencananya sehingga endingnya tanpa rencana tetapi hebatnya bisa menciptakan sebuah sepeda. Hebat sekali bukan serangkaian kebetulan yang bisa seperti itu ???
SALAM
30 Agustus 2009 at 09:15
Mengapa ada hidup dan alam semesta yang kesemuanya sungguh sangat menakjubkan?
saya kira jawabannya bukan karena kebetulan, tetapi karena semua “materi” yang ada di jagad raya ini sampai hitungan/kuantitas yang terkecil (molekul/atom) memiliki “karakter”.
Seluruh benda, entah itu berupa benda hidup atau mati, niscaya, tanpa diminta otomatis,dalam dirinya melekat “karakter”.
Debu memiliki karakter, besi, air, udara, kayu, tanah, batu dan saya kira semua benda pasti memiliki karekater. Dari kerumitan karakter dan keanekaragaman bentuk inilah ketika mereka saling “bertemu” masing-masing akan memepertahankan diri sesuai dengan karakternya, sehingga terciptalah “ramuan alam” yang berupa hukum fisika, bioloi, kimia dan sebagainya. Selama masih ada “benda” hukum ini bersifat “abadi”.
Nah siapa gerangan yang menentukan karakter benda-benda itu? seperti mengapa air selalu mengalir ketempat yang lebih rendah? apakah ini sebuah kebetulan? Mengapa mata kita bisa melihat,mengapa telinga kita bisa mendengar, mengapa rambut alismata kita tidak bisa tumbuh terus memanjang? dan ada sejuta mengapa yang tiada akan pernah habis kita tanyakan.
Mungkin tak ada gunanya “berdebat” tentang siapa yang “menentukan sifat-sifat itu” setan atau tuhan atau hantu. Sebab, buat apa kita susah-susah mencari yang belum juga pasti ketemu “kebenarannya?”.
Menurut saya, dari pada “penasaran” dan akhirnya menimbulkan “spekulasi” yang gak karuan, mendingan kita teliti saja sifat-sifat alam itu (baik benda hidup maupun benda nati).
Apa gunanya meneliti? yah….., apalagi kalau tidak untuk mempermudah kehidupan dan melestarikannya (kalau bisa).
Justru aku sangat heran, kenapa seolah-olah anda dan mayoritas orang-orang beragama pada umumnya begitu alergi terhadap setan, golongan kafir atau atheisme?
Ketahuilah hidup ini sesungguhnya milik para “peneliti” yang lain hanyalah “pengguna” dari hasil penelitian. Jadi, silakan saja jika golongan orang yang beriman senantiasa membenci golongan atheisme/kafir.
Sebab, jika tuhan benar-benar ada maka menurut saya Tuhan justru lebih sayang kepada golongan kafir. Ingin tahu rahasianya? Rahasianya cuma satu, karena golongan kafir tidak pernah “membebani tuhan” (meminta-minta).
Begitu love? masih setujukah dengan pendapatku?
31 Agustus 2009 at 17:45
@Suprayitno :
Apa gunanya meneliti? yah….., apalagi kalau tidak untuk mempermudah kehidupan dan melestarikannya (kalau bisa).
==> Ya siapa juga yang ngelarang kamu meneliti. Silahkan saja yang mau berperan jadi peneliti.
======================================
Justru aku sangat heran, kenapa seolah-olah anda dan mayoritas orang-orang beragama pada umumnya begitu alergi terhadap setan, golongan kafir atau atheisme?
==> Saya tidak tahu apa yang kamu maksud dengan alergi. Kalo saya lagi nggak pilek biasanya saya nggak pake bersin2 ketemu sama siapapun. Lha kalo memang saya lagi pilek ketemu sama kucingku saja bisa bersin.
============================================
Sebab, jika tuhan benar-benar ada maka menurut saya Tuhan justru lebih sayang kepada golongan kafir. Ingin tahu rahasianya? Rahasianya cuma satu, karena golongan kafir tidak pernah “membebani tuhan” (meminta-minta).
===> Di dunia ada manusia sok tahu ada manusia yang tidak sok tahu. Di antara manusia sok tahu itu ada yang sok tahunya terlalu ke kanan ada juga yang terlalu ke kiri. Lah kamu jelas termasuk yang terakhir itu.
===========================================
golongan kafir tidak pernah “membebani tuhan”(meminta-minta)???
Masalah meminta atau tidak meminta yah itu memang relatif. Kalo bisanya minta-minta terus nggak pernah bersyukur yah itu masalah.
Tetapi tidak pernah minta tetapi juga tidak pernah bersyukur kayaknya juga masalah. hi hi hi
==========================================
Begitu love? masih setujukah dengan pendapatku? ===> Seperti biasa selalu ada sisi yang sama dan ada juga sisi yang berbeda. Kau simpulkan saja sendiri pendapatku itu.
1 September 2009 at 13:01
Mengapa seh kalau yang alirannya ketuhan-tuhanan kamu sebut sebagai “kanan” kalau yang materialism kamu sebut “kiri”?
Tolong dijabarkan,bagaimana anda bisa berpikiran seperti itu, apa dasarnya dan baikan mana antara kanan atau kiri? apa alasannya?
Aku bukannya sok ahu, tetapi itu kan menurut pendapatku, silakan saja di cek kepada setiap orang kafir, apakah dia suka membebani tuhan dengan aneka permintaan dan harapan? Menurut asumsi saya, seseorang yang tidak terlalu banyak membebani karena dia sadar bahwa alam (karena kamu orang yang beragama maka kamu menyebut tuhan) sudah terlalu sangat banyak memberi, maka apa lagi yang diminta-minta? Menurutku ini adalah pilihan yang baik (dan niscaya jika tuhan ada, maka tuhan akan lebih menyayangi orang-orang jenis ini), jadi bukan sok tahu seperti pendapatmu.
Menurutku, sikap seperti itu jauh lebih baik sebab segala sesuatu kan sudah tersedia di alam ini, tinggal kita memanfaatkannya saja dengan kecerdasan, kreativitas, inovasi, eksplorasi,kesabaran, kejujuran, disiplin, tanggungjawab, konsisten yang dibarengi dengan akal budi yang luhur. Terserah, orang tersebut mau bersyukur apa tidak, sebab kita tidak bisa menjustice (menghakimi) bahwa orang yang tidak bisa bersyukur itu pasti buruk, dan orang yang ahli bersyukur itu mesti baik. Bersyukur atau tidak itu urusan pribadilah, kita gak usah mencampuri dan sok menasihati kayak ustadz aja. Toh baik atau buruk, dia sendirilah yang bakal menanggung/merasakan akibatnya.
Soal alergi, saya katakan “pada umumnya” orang-orang yang beragama itu alergi terhadap golongan kafir. Jika anda tidak alergi, baguslah itu.
1 September 2009 at 20:53
Mengapa seh kalau yang alirannya ketuhan-tuhanan kamu sebut sebagai “kanan” kalau yang materialism kamu sebut “kiri”?
Tolong dijabarkan,bagaimana anda bisa berpikiran seperti itu, apa dasarnya dan baikan mana antara kanan atau kiri? apa alasannya?
===> Kalo ini mah jujur aku juga nggak ngerti. Lha aku kan cuma ngikut istilah umum saja. Kalo yang dibuat makan itu namanya sendok bukan semen. Mengapa sendok? Gak tahu aku.
Intinya saya lagi memakai term umum disini yang dipahami banyak orang. Lha mengapa agama identik dengan kanan, materialisme kiri, alasannya apa ? Ya saya bahkan nggak tahu siapa yang pertama kali membuat konsensus tidak tertulis macam gicu. Saya bisa mencoba menerka2 sih tapi mendingan nggak usahlah. Ntar malah salah. Tapi yang saya pake itu kan konsensus umum. Kalo ada yang tahu sejarah asal muasalnya kok gicu yah bolehlah kalo diposting : Siapa yang pertama kali menciptakan istilah kanan dan kiri ini .
Baikan mana kanan atau kiri ? Di hampir semua agama, diajarkan kesimbangan. Bahkan Budhisme yang ngaku tidak bertuhan pun mengajarkan jalan tengah. Hanya saja masalahnya adalah : Apa yang dianggap jalan tengah oleh seseorang mungkin saja masih dianggap terlalu ke kanan/kiri oleh orang yang lain. Batasan apa yang disebut tengah itu kan menurut persepsi masing-masing.
===========================================
Menurut asumsi saya, seseorang yang tidak terlalu banyak membebani karena dia sadar bahwa alam (karena kamu orang yang beragama maka kamu menyebut tuhan) sudah terlalu sangat banyak memberi, maka apa lagi yang diminta-minta? Menurutku ini adalah pilihan yang baik (dan niscaya jika tuhan ada, maka tuhan akan lebih menyayangi orang-orang jenis ini), jadi bukan sok tahu seperti pendapatmu.
===> Yah tetap saja kamu sok tahu. Hi Hi Hi. Yang kamu lakukan itu kan pengandaian. Lha andaikata A maka pastilah harus B. Padahal korelasi antara A dan B bukanlah korelasi yang sifatnya tunggal dan mutlak satu-satunya, apalagi bagi Tuhan.
Ada sisi usaha dan ada sisi mengikhlaskan usaha, Lha meminta itu tentu juga salah satu bagian dari usaha. Tetapi bukan berarti meminta dijadikan satu-satunya usaha.
========================================
Terserah, orang tersebut mau bersyukur apa tidak, sebab kita tidak bisa menjustice (menghakimi) bahwa orang yang tidak bisa bersyukur itu pasti buruk, dan orang yang ahli bersyukur itu mesti baik. Bersyukur atau tidak itu urusan pribadilah, kita gak usah mencampuri dan sok menasihati kayak ustadz aja. Toh baik atau buruk, dia sendirilah yang bakal menanggung/merasakan akibatnya.
===> Bersyukur itu baik, yang jadi masalah bukan masalah bersyukur, yang jadi masalah adalah darimana bisa kita simpulkan kalo orang lain tidak bersyukur. Lha bisa saja di sini ada sifat meninggikan diri sendiri yang menyelinap masuk.
=============================================
Bersyukur atau tidak itu urusan pribadilah, kita gak usah mencampuri dan sok menasihati kayak ustadz aja. Toh baik atau buruk, dia sendirilah yang bakal menanggung/merasakan akibatnya.
===> Apa hubungannya menasehati sama Ustadz ? Lha wong bukan ustad juga boleh menasehati lho.
Toh baik atau buruk, dia sendirilah yang bakal menanggung/merasakan akibatnya ===>
Ada dua point yang perlu kamu lihat.
Pertama : Tidak selalu benar bahwa seseorang hanya menanggung akibat dari dirinya sendiri. Dalam banyak konsep agama termasuk Islam, selain akibat dari tingkah laku pribadi atau dosa pribadi ada juga konsep Dosa Sosial : Membiarkan orang lain kesasar itu juga dosa. Itu juga bersalah. Dalam bahasa yang lebih puitis : Membiarkan salah satu orang membolongi perahu akan menyebabkan seisi kapal tenggelam semua. Di sinilah konsep saling mengingatkan itu mendapatkan tempatnya.
Kedua : Orang yang baik adalah orang yang tentu saja ingin kalo dia lagi mendapatkan kebaikan, lha orang lain juga dapet. Kalo kamu dapet onde-onde enak, maka lebih afdol jika orang lain juga dapet onde2 agar bisa dinikmati bersama. Sampai batas ini, saya rasa itu masih baik-baik saja. Yang jadi masalah adalah memang ada orang yang nggak seneng makan onde-onde. Lha bahkan andaikata karena kebaikan hati kita , kita ingin agar manusia lain juga mendapatkan kebaikan, tetapi tentu saja itu memang tidak bisa dipaksakan.
Bagi X onde2 itu enak, karena itulah X pengin berbagi dengan yang lain, agar orang lain menikmati. Sampai di sini itu tindakan yang baik-baik saja dan justru menunjukkan solidaritas. Yang jadi masalah adalah kalo penawaran itu kemudian berubah menjadi pemaksaan.
1 September 2009 at 22:59
Bersyukur atau tidak menjadi urusan diri sendiri maksudnya gini lho bos, setiap manusia itu pada dasarnya tahu apa yang baik dan tidak baik bagi dirinya.
Jika mereka berpikir dan merasakan “tidak bersyukur” itu lebih baik bagi orang tersebut, ya biarkan saja.
Sementara bagi orang lain yang pinter bersyukur karena dia menganggap itu lebih baik ya suka-suka dia kan?
Kita baru akan memberi masukan kalau dia meminta saran kepada kita, jadi konteksnya bukan suatu tindakan yang akan mencelekakan orang lain.
Lha, kalau suatu “action” itu kira-kira bisa membahayakan bagi orang lain maupun bagi pelaku ya kita sebisa mungkin “mengingatkan”. Sebab action itu kan sudah berupa tindakan, sedang masalah bersyukur atau tidak kan mereka sendiri yang tahu.
Sebab, menurutku bersyukur itu kan masalah yang lebih kedalam yakni menyangkut “hati/perasaan” bukan action/tindakan.
2 September 2009 at 09:27
Bersyukur itu memang masalah hati, tetapi kalo ada persepsi seseorang terhadap orang yang lain. Persepsi itu sedikit banyak kan terkait dengan action yang kamu bilang itu.
Misalnya Sudah Kaya tiap hari ngomel terus mengatakan dirinya miskin, lha persepsi orang lain kan menilai dari situ, Lha persepsi itu sendiri entah benar entah tidak, bisa saja. Tetapi jelas ada kaitan antara action dan persepsi. Karena orang jelas mengadili kamu dari actionmu.
Masalah setiap manusia tahu apa yang baik bagi dirinya sendiri, itu saja sudah debatable. Lebih dalam lagi bahkan andaikata seseorang tahu, tahu dengan melaksanakan adalah dua hal yang berbeda.
Gampangannya siapa yang tidak tahu kalau merokok itu berpotensi membahayakan paru2 ? Biarpun tahu kan ya ada yang masih merokok. Kalo misalnya seorang istri karena suaminya kebetulan sakit batuk agak parah lalu mengingatkan suaminya mengurangi merokok. Ya masih boleh2 saja itu. Bahkan andaikata secara umum saja kita anggap suaminya sebenarnya tahu bahwa merokok itu bisa menambah buruk kesehatannya. Jadi masalah mengingatkan sepanjang itu masih mengingatkan , masih OKE lah menurutku. Kalo diminta tentu memang lebih afdol, kalo tidak diminta apabila memang dianggap sungguh perlu , yah boleh jugalah mengingatkan.
2 September 2009 at 18:59
ya, terus terang aku mang kurang berkenan dengan tingkah seseorang yang sok menasehati.
sok dekat dengan tuhan, padahal dia sendiri menginjak-injak harkat kemanusiaan. mulutnya nyerocos membacakan ayat-ayat tuhan, tetapi tidak peduli dengan kekerasan dan kemiskinan.
sok pintar bersyukur, –dan menasihati agar orang lain seperti dirinya–, padahal dia sendiri serakah mengambil yang bukan hak miliknya melalui trik-trik khotbah (menjual agama, tuhan dan ayat-ayat-Nya).
dialah orang-orang munafik yang bersembunyi dibalik kerudung atau jubah kebesarannya. Apakah ada orang yang demikian? menurut pengalaman dan pengamatanku teramat sangat banyak.
2 September 2009 at 19:16
Sangat banyak ? Yah memang pasti adalah yang seperti itu. Namanya juga manusia je…Hi Hi Hi.
Tetapi gini yah : Coba kamu pilah-pilah
Bersyukur itu satu konsep. Lha munafik itu lain lagi. Kalo kebetulan dua itu dikolaborasikan oleh seseorang ya masing2 aslinya tetap pada jalurnya.
Bahwa banyak tokoh agama yang lagaknya bikin perut mules, tentu saja itu benar. Itu kan persepsi dan daya tahan perut masing-masing. Tetapi selain yang bikin perut mules tentu ada juga yang bikin perut nggak mules.
Lha bahwa ada manusia menyebalkan dan sudah menyebalkan bikin tambah sebal dengan sok menasehati – tidak sama dengan semua yang menasehati pasti menyebalkan. Kadang nggak gicu-gicu amatlah.Nasehat yang tidak diminta kadang memang membuat dongkol, tetapi kadang juga ada manfaatnya.
Masalahnya adalah secara psikologis nasehat yang tidak diminta memang lebih terkesan murahan ketimbang nasehat yang diminta. Mangapa ? Soalnya mungkin kebutuhannya lagi nggak klop, persepsinya lain dll. Tetapi secara substansial yang namanya nasehat baik diminta atau tidak – kalo itu baik ya baik, kalo jelek ya jelek. Cuma moodnya yang nerima mungkin memang lain.
3 September 2009 at 08:19
Ya, kita lihat saja tuh bolo-bolomu yang sering nampang di tv, atau guru-gurumu yang pasti suka memberikan nasehat-nasehat.
Mereka seakan-akan “MENGGENGGAM KEBENARAN” karena dia sedang mewakili “PIKIRAN DAN KEMAUAN TUHAN”. Karena dia begitu “YAKIN” dia sedang membela tuhan, maka dengan sangat berapi-api dan berwajah sinis, dia seolah berkata “inilah guwe dengan agama guwe yang pasti selamat dunia dan akherat”.
Lalu mereka mulai “MENYEBARKAN HAWA PANAS” kepada para pengikutnya. Mereka mendoktrin para generasi muda dengan kedua matanya ditutup memakai kacamata kuda, supaya mereka hanya melihat “KEBENARAN DARI SATU SISI” saja.
Apa hasilnya? produk dari ajaran semua agama justru hanya “MENGKERDILKAN PIKIRAN MANUSIA”. Manusia akhirnya “DIJAJAH OLEH AGAMA” dengan tuhan sebagai penguasa tunggal, yang pasti benar adanya dan TIDAK BOLEH DIKRITIK.
WAHYU itu kata-katanya/sabda tuhan yang pasti benar, jadi sampeyan tidak boleh “MENGKRITISI” apa lagi sampai menghujat. Wah, cilaka kamu kalau sampai menghujat!! kamu akan dimusuhi oleh berjuta-juta manusia yang telah menjadi budak agama.
Salah satu dari produk agama, coba saja lihat bagaimana seorang perempuan harus “MENDANDANI DIRINYA” sedemikian rupa hanya kelihatan bola matanya dan mereka takut sekali untuk bersalaman dengan lawan jenis (yang bukan muhrimnya), seakan-akan lawan jenis itu haram untuk berjabatan tangan.
Ini ajaran darimana? tentu mereka bilang ini ajaran Tuhan sesuai dengan wahyu-Nya. Terus terang, jika benar ini dari tuhanmu, maka itulah yang disebut “TUHAN GENDENG”. Mengapa? sebab, secara nalar saja tidak mungkinlah tuhan ngurusi “pakaian” wanita.
Tuhan yang amat rendah begini ternyata menjadi sembahan dan puja-puji miliaran manusia di atas bumi.
Saya gak tahu, sebenarnya yang rendah nabinya atau tuhannya. Sebab, kalau aku mau konfirmasi kepada nabinya, dia sudah mati. Tetapi kalau aku mau tanya langsung kepada Tuhan nanti ternyata kalau Tuhan menjawab “Wah jangan percaya sama yang tertulis di alkitab, itu semua omong kosong karena yang dikatakan wahyu itu tak lain adalah produk dari pemikiran nabi”. Nah kalau ternyata yang keluar jawaban-Nya seperti itu, bagaimana?
Coba saja kalian semua bertanya kepada Tuhan,baik bagi yang beragama Islam, Hindu, Buddha,Kong Hu Tju, Kristen atau yang kafir juga boleh kalau mau, mau gak tuhan menjawab? Jika mau, apa jawabannya serempak sama, atau berbeda-beda antara jawaban pada yang satu dengan yang lainnya?
Beragama jika hanya menggunakan “keyakinan/keimanan” tanpa dibarengi dengan akal dan kritisisme maka akan lahir barisan-barisan “robot” yang sangat mudah dikendalikan dengan remote control.
Mereka menjadi insan yang “patuh” bahkan melebihi robot, karena kalau robot jelas benda mati sedang manusia benda hidup.
Maka, akan sangat berbahaya “merobotkan makhluk hidup yang bernama manusia”. Saya melihat, kebanyakan yang telah telanjur menjadi robot, justru sangat bangga dan menyebut dirinya sebagai “PAHLAWAN TUHAN”.
Padahal yang sebenarnya mereka adalah “HANTU”!!!!!
Sory love kamu pasti bukan hantu dan respon ini hanya buatmu seorang, karena mudah-mudahan kamu tidak emosional. OK… salam cinta.
3 September 2009 at 16:26
Mas Prayit, aku tuh nyadar beneran kalo perut kamu itu pasti lagi mules. Tetapi selain ngomel2 mengenai penyebab mulesmu itu ada baiknya kamu juga berpikir bagaimana cara mengatasi mulesmu itu. Lha siapa suruh semua makanan kamu telen hi hi hi. Yang dimaksud kritis itu nggak mesti harus selalu ngamuk-ngamuk. Orang nyasar ke kanan terus kamu tarik ke kiri keras2 sampai endingnya tarik-tarikan. Tambah lama sama2 tambah ngotot.
Bahwa ada tokoh agama yang aduhai menyebalkan. Itu harus diakui. Kamu baca puisiku, kamu baca komentarku di blognya pendeta Ioanes Rakhmat. Bukan cuma kamu, banyak manusia yang sebal , tahu nggak. Hanya saja bedanya kami dengan kamu.
Kami dapat mengelola kesebalan kamu lumayan baik, biarpun ngedumel tetapi nggak kayak kamu heboh banget nyasar kemana-mana.
Kalo kamu sebal dengan seseorang ya seballah. Nggak perlu kamu kait-kaitkan dengan generalisasi yang lain.
Ada ustad yang menyebalkan ?? Ada pasti
Ada pendeta yang bikin muntaber? Ya juga ada.
Ada manusia geblek yang berharap masuk surga dengan membunuh orang lain yang tidak bersalah ??? Ya ada.
Ada manusia yang merasa berhak menjadi hakim padahal bukan hak dan kapasitas mereka menjadi hakim? Ya ada.
Kalo kamu dongkol dengan sebagian dari mereka, ya nggak usah kamu nyamber kemana-mana dong. Hi Hi Hi.
Saya nggak nyuruh kamu nahan emosi karena manusia model kamu mana bisa nahan-nahan. Hi hi hi.
Tetapi kalo elo dongkol yang tepat sasaran dong. Logika berpikir kamu itu sama terorisnya dengan yang ngebom hotel di Jakarta.
Kalian berada pada posisi yang berseberangan , tetapi memiliki pemikiran yang sama. Menggeneralisasi pihak lain.Jadi disadari atau tidak – pemikiran kamu itu juga sama ekstrimnya dengan para pengebom itu. Hanya saja posisi kalian bersberangan. Tetapi cara /model berpikirnya idem. Cara menilai pihak yang berbeda juga mirip-mirip sih. Seenak udel membuat judgement. Hi Hi Hi
Kalo mereka adalah Hantu, yah samalah dengan kamu : Hantu Hantu juga.
Cuma mereka genderuwo kamu wewe gombel atau buto ijo mungkin. Mungkin gicu saja bedanya. Mudeng maksudku nggak ya ?
3 September 2009 at 20:24
Kalau kamu menilai aku sama dengan teroris silakan, itu hakmu.Tapi kamu harus tahu, aku tidak pernah membunuh orang apalagi terhadap mereka yang tak bersalah. Aku hanya menulis berdasarkan fakta (serealis mungkin), sepanjang yang aku rasakan dan aku ketahui.
kalau kamu kesal dengan tulisanku lantas kamu menyamakan aku dengan hantu, silakan itu hakmu. apa lagi kamu sampai menyamakan aku dengan buto ijo, silakan juga. Toh aku yakin kamu pasti belum pernah TAHU siapa itu buto ijo. paling-paling kamu juga sedang ikut terbawa emosi kali yeee….
kalau aku, bila diijinkan menilaimu, maka menurutku kamu seperti manusia. maaf ya jangan marah, cuma guyonan. Boleh kan aku menilaimu demikian?
Apa pun bunyi tulisannya, yang penting kita tetap bersahabat. aku harap kamu dan teman-teman lain tetap mau bersahabat, tetapi jika keberatan bersahabat denganku juga tak apa.
Mungkin memang aku bukanlah orang yang pantas untuk dijadikan sahabat, karena aku menurut penilaian love masuk spesies makhluk ghoib dengan ordo buto ijo. Jadi mungkin “haram” dan cukup mengerikanlah bersahabat dengan aku.
Buto ijo hebat banget kali ya love? kamu takut gak? he he he……………
ya udah, maapin guwe ya love jika menurut penilaianmu gw ikut jadi hantu juga. Tapi yang jelas aku tak pernah ingin menakut-nakuti siapapun dengan dalih “kehantuan”.
salam cinta.
3 September 2009 at 23:33
Lho gini ya : Kalo bicara masalah fakta – yang dijadikan dasar berpikir para teroris itu juga fakta. Misalnya saja ketidakadilan di Palestina itu fakta. Ada tingkah laku Amerika dan Israel yang bikin mules, itu juga memang menurutku ada. Eksploitasi minyak dsb itu juga ada.
Tetapi masalahnya bukan karena fakta lalu bisa dijadikan alasan.
Masalahnya adalah makhluk hidup bau kencur itu melihat fakta secara parsial dan melakukan generalisasi seenak udelnya. Semua yang dianggap tidak mendukung kemudian di bom. Padahal mendukung adalah lain hal dan ngebom adalah soal lain lagi.
Lha miripnya kamu dengan mereka itu di sini. Hanya saja posisinya kamu berseberangan dengan mereka. Yang saya omongkan mengenai miripnya itu di situ. Bukan masalah membunuh atau tidak membunuh.
Itu bisa jadi cerita lain. Atau bisa saja itu jadi cerita berikutnya kalo kamu tidak bisa mengendalikan pikiranmu yang senang menggeneralisasi itu. Lha mudah-mudahan sih tidak.
Betapa banyak kelompok agama melakukan generalisasi secara berlebihan? Begicu juga pada sisi lain betapa banyak kelompok anti agama yang melakukan hal yang sama?
Masing2 dari mereka mengklaim bahwa dasarnya fakta.
Lha yang namanya fakta : Pasti memang ada kelompok agama yang rada2 sableng, dsb. Pada sisi lain juga ada kelompok non agama atau anti agama yang sama biadapnya. Lha apa gunanya fakta murahan ini diadu.
Masalah buto ijo, wewe gombel dan hantu – itu konteks ucapanku seperti itu. Jadi kamu tidak usah terlalu kolokan dengan memelintir ucapanku seolah aku menganggap kamu makhluk hidup mengerikan sehingga aku memusuhimu dsb. Itu terlalu berlebihan mister Prayit. Hi Hi Hi.
Belajarlah berpikir yang proporsional hi hi hi, hantu yang kamu omongkan itu artinya apa? Lha buto ijo ada pada logika dengan tataran yang sama. Jadi nggak usah kamu sangkut-sangkutin sama species. Yang kamu bahas kan pemikiran. Gicu lho
salam cinta
3 September 2009 at 23:44
kalau aku, bila diijinkan menilaimu, maka menurutku kamu seperti manusia. maaf ya jangan marah, cuma guyonan. Boleh kan aku menilaimu demikian?
===> Sebagai buto ijo kamu sungguh cerdas ternyata.
Tidak kusangka kamu bisa mbales sepinter ini. Oke, terimakasih karena mengingatkanku bahwa aku ini masih mirip sama manusia. Hi Hi Hi Jan jan
SALAM
4 September 2009 at 08:13
Fakta ketidakadilan di palestina setahuku itu bukan maslah “agama” bung tetapi “pure” masalah politik kekuasaan.
Lagi pula ngapain sih mereka “sok peka” terhadap nasib rakyat palestina? mereka toh etnik arab padahal “sesama bangsa arab” saja mereka gak peduli dengan nasib rakyat palestina.Buktinya? dari dulu mereka dibiarkan berjuang sendirian melawan Israel. Mana persatuan dan solideritas bangsa arab? Bangsa-bangsa arab saya lihat lebih asyik dengan kepentingan masing-masing (egois).
Bangsa arab yang kaya raya juga jarang bantu kita kan? (malah mereka suka memperkosa dan membunuh babu-babu dari negeri kita). Padahal berapa triliun arab saudi sudah menikmati devisa ritual haji dari orang-orang indonesia selama ini? Adalah fakta bahwa orang arab itu kan nenek moyangnya para nabi junjungan umat.
Lha kok jauh-jauh orang-orang indonesia muslim yang sok peka itu membela mati-matian palestina atau afghanistan? wong sesama bangsa sendiri yang tertindas dalam berbagai kemiskinan saja jumlahnya jutaan, mengapa kaum muslim yang sok peka itu tidak berjuang demi nasib bangsanya sendiri lebih dulu? jangan bisanya cuma khotbah dan menghasut melulu (bagi sebagian orang lho, aku tak sedang menggeneralisir).
aku berpikir konyol saja mereka itu!! kalau mau menjadi muslim jadilah muslim yang cerdas. Bagaimana cara menjadi muslim yang cerdas? menurutku gunakan saja akal sebab dengan akal kita bisa mencoba membedakan mana yang “masuk akal” mana yang “tidak masuk akal”.
Yang masuk akal biasanya bisa dibuktikan kebenarannya, sedang yang tidak masuk akal biasanya “tidak bisa dibuktikan kebenarannya”. menurutku sesederhana itu.
Lha yang tidak masuk akal sebisa mungkin harus kita tanyakan kembali, apa dasar-dasar pemikirannya. Jika dasar pemikirnnya kita “anggap lemah” karena hanya berpedoman pada satu kata sakti “POKOKNYA INI WAHYU” maka jika kita tetap menerimanya saya pikir hal-hal demikian secara lambat tetapi pasti akhirnya akan mewarnai cara berpikir dan tingkah laku kita. Akhirnya -mau tidak mau- dengan dasar pemikiran yang lemah, kita akan menjadi orang yang lemah juga.
Soal tindakan amerika, ya memang begitu, kan sudah ada pribahasa “ASU (boleh dibaca :USA) gedhe menang kerahe”. Jadi masalahnya bukan “adil” dan “tidak adil” tetapi masalah “POWER”. Sebab, keadilan itu bukan sesuatui yang bisa kita dapatkan secara “gratis”. Keadilan harus diperjuangkan dengan kecerdasan, keberanian dan pengorbanan.
Nah power itu yang paling tampak jelas bisa kita lihat melalui “kekuatan ekonomi dan militer”. Suatu negara yang bisa memiliki gabungan dari dua kekuatan tersebut, mustahil jika dia tidak memiliki tradisi berpikir dan ilmu pengetahuan (research and development) yang sangat tinggi.
Lha kalau bangsa arab dan bangsa kita males-malesan, penginnya kerja santai/ seadanya tetapi pengin hasil yang sebesar-besarnya, mana mungkin kalau tidak korupsi?
Alih-alih mengalahkan amerika, yang terjadi justru negeri kita menjadi bahan main-mainan oleh negara kecil kayak malaysia. Amerika tak bisa dikalahkan oleh aksi terorisme berapa kalipun serangan itu dilakukan. Hanya bangsa yang lebih cerdas dari amerika yang dapat mengalahkannya.
Kapan kita menjadi bangsa yang cerdas jika terus dililit masalah-masalah mistis/keagamaan? Ya, mungkin mereka berharap “DI SURGA” ya silakan saja jemput surga dengan kematian lebih dulu.
Sory love, saya rasa kalau aku benar-benar menjadi manusia bukan mirip manusia.he he he
6 September 2009 at 06:23
Sory love, saya rasa kalau aku benar-benar menjadi manusia bukan mirip manusia.he he he
===> Sudah berhasil Menjadi Manusia ya ? Syukur deh. Kirain masih buto ijo, ternyata sudah berhasil malih rupa jadi manusia. Hi Hi Hi . Baguslah itu.
============================================
Fakta ketidakadilan di palestina setahuku itu bukan maslah “agama” bung tetapi “pure” masalah politik kekuasaan. ===> Sebenarnya yang saya bicarakan intinya bukan itu . Yang saya omongkan adalah ada ketidakadilan yang menimpa suatu kaum. Lha ketidakadilan itu kemudian dipersepsikan oleh suatu kelompok. Gicu kan?
Lha masalah persepsi tentu saja tiap orang memang lain-lain. Dalam masalah Palestina memang benar bahwa masalah kekuasaan jelas ada di situ. Palestina juga bukan masalah Islam saja karena ada tragedi kemanusiaan di situ. Lihatlah Palestina sebagai tragedi terhadap manusia. Lagian memang bukan cuma Islam yang kena di situ. Karena Palestina dihuni oleh banyak agama. Karena itulah sebenarnya saya lebih senang kalo para pembela Palestina mestinya memanfaatkan isyu-isyu yang lebih universal dan cerdas – ketimbang ngebom yang tidak jelas juntrungannya. Kampanyekan pembelaan terhadap kemanusiaan secara menyelruh dimana Palestina juga ada di dalamnya. Itu bisa jadi gerakan yang lebih besar yang didukung oleh lebih banyak elemen masyarakat di dunia.
Tindakan ngebom ngawur, manusia tidak bersalah dibom – jelas tidak akan membuat lebih baik pihak-pihak yang mereka bela.
Kalo mereka ngebom di Indonesia , apakah tindakan mereka membuat lebih baik pihak2 yang mereka bela? Yang mereka lakukan itu bukan pembelaan, itu pelampiasan ego dan emosi sesaat.
Masalah Palestina, Irak dsb itu sungguh ruwet karena banyak kepentingan di situ.
Nafsu ekonomi, persaingan antar negara termasuk negara Arab juga, bisnis jual beli senjata jutaan dollar, kekuasaan politik seseorang dsb – tentu saja juga ada isyu2 agama yang nyamber ke sana kemari.
Bagiku sih perang secara umum saja – cuma akan menguntungkan pedagang senjata, kontraktor penyedia infrastruktur perang, serta kontraktor pemulihan pasca perang. Menguntungkan pemilik tambang2 minyak karena minyak jadi naik. Menguntungkan pebisnis media internasional karena media jadi laku. Menguntungkan jendral2 korup karena upeti dari pengusaha bisnis senjata mengalir deras. Menguntungkan pejabat pemerintah yang diam2 punya saham di bisnis2 tersebut. Perang berarti harga saham tertentu naik.
Sepanjang perang tersebut tidak merugikan mereka, mereka bisa saja membuat perang dimanapun, kemudian sok baik hati memperbaiki kerusakan akibat perang. Jadi perang ada mereka untung besar. Nanti setelah perang selesai, mereka juga untung karena mereka membuat proyek pemulihan pasca perang. Menghancurkan gedung dapet duit. Membangun gedung dapet duit lagi. Ha ha ha.
Hancurkan lagi, bangun lagi.
Asal bukan rumah mereka saja yang dirudal.
Masalah isyu2 agama ? Lah apa susahnya membuat isyu. Memang selalu ada kelompok yang bersifat sok idealis terhadap agamanya. Tetapi saya tidak yakin dalam kasus2 perang internasional kelompok itu banyak berperan. Paling2 ya endingnya adalah Bagaimana membuat perang yang mensejahterakan kantong masing2 gicu ya?
Lah yang apes itu kan tentara di garis depan. Apalagi rakyat tentu tambah apes lagi.
======================================
mengapa kaum muslim yang sok peka itu tidak berjuang demi nasib bangsanya sendiri lebih dulu? jangan bisanya cuma khotbah dan menghasut melulu ===> Membela bangsa sendiri tentu saja juga baik. Masalah membela yang mana lebih dulu tentu saja itu persepsi masing2 . Mana yang dianggap lebih dekat mungkin? Atau bisa saja pemikirannya mana yang dianggap lebih darurat. Tetapi dalam kasus Malaysia, saya rasa ada cukup banyak blog2 muslim yang juga bersuara keras mengenai hal ini. Saya tahulah itu karena saya sering jalan-jalan.
===========================================
Jadi masalahnya bukan “adil” dan “tidak adil” tetapi masalah “POWER”. Sebab, keadilan itu bukan sesuatui yang bisa kita dapatkan secara “gratis”. Keadilan harus diperjuangkan dengan kecerdasan, keberanian dan pengorbanan.===> Masalah Power itulah yang jadi masalah. Yang kamu pikirkan itu benar. Tetapi dari persepsi para teroris itu , itu bukan sesuatu yang bisa diraih dalam jangka pendek. Kalo masalah : kecerdasan, keberanian dan pengorbanan – mereka punyalah sedikit-sedikit hi hi hi. Yang kurang itu kesabaran. Cuma mereka merasa kalo nggak sekarang kapan lagi. pointnya kan itu.
==========================================
Suatu negara yang bisa memiliki gabungan dari dua kekuatan tersebut, mustahil jika dia tidak memiliki tradisi berpikir dan ilmu pengetahuan (research and development) yang sangat tinggi. ===> Yah baguslah kalo kamu nyadar. Hi Hi Hi. Masalahnya tetapi bukan cuma itu. Kalo sekedar ngomong gini mah semua pejabat ngomongnya gini.
SALAM
6 September 2009 at 13:20
Menurut aku jika bangsa Indonesia pengin segera bangkit, ya bangkit dulu kaum muslimnya, sebab kaum mulim itu mayoritas di negara kita.
Tetapi saya sangat tidak yakin dan tidak setuju jika kebangkitan/kemajuan dan kejayaan itu harus dimulai dengan semangat/pendekatan teror atau semangat mendirikan negara islam atau semangat menjalankan “riutal mistik” yang sebanyak-banyaknya.
Cobalah umat islam di negara kita bangkit dengan semakin mengasah “kecerdasannya”. bentuk Kecerdasan seperti apa? itu sudah aku ungkap panjang lebar di depan tulisan ini.
Menurutku, kemajuan akan lebih efektif jika pendekatannya melalui “pendidikan” yang sangat memperhatikan tiga aspek yakni “KOGNISI, AFEKSI dan PSIKOMOTOR”.
Nah sejauh mana pendidikan agama dalam mewujudkan ketiga aspek tersebut? mengapa negara dengan basis religius yang sangat kuat tetapi di sisi lain melahirkan manusia-manusia yang bejat dan munafik yang tiada tara?
ciri-ciri manusia munafik yang paling menonjol menurutku adalah “tidak satu kata antara tindakan dan ucapan”. Ucapannya menganjurkan “kejujuran” tetapi dia sendiri tidak jujur. Ucapannya membela wong cilik, tetapi tindakannya justru menindas wong cilik. Ucapannya mari kita tegakkan keadilan, tetapi tindakannya justru berbuat ketidakadilan. Ucapannya mari kita membela “tuhan”, tetapi tindakannya justru menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.dan masih ada seribu kemunafikan lainnya baik yang diucapkan oleh para pemimpin agama maupun para politisi, guru, dan aparat lainnya.
Silakan bagi yang menyimak diskusi ini bersama-sama berpikir, apakah dengan tingkat keagamaan yang makin tinggi akan berkorelasi positif terhadap kemajuan bangsa dan negara atau sebaliknya?
Bisakah pendidikan agama baik yang formal maupun informal mendorong lahirnya “manusia-manusia baru” yang lebih cerdas, kritis,kreatif, dedikatif, analitis, taktis, inovatif, jujur dan humanis? Atau lebih banyak melahirkan manusia-manusia “fanatis” yang lebih pintar berdoa (menengadahkan tangan ke langit) sambil berseru : Amiiin……amiin…amiin?
SALAM CINTA
FROM SUPRA
6 September 2009 at 13:54
Mengenai pembelaan terhadap “palestina” saya sependapat jika mengatasnamakan isu “kemanusiaan yang bersifat universal”.
Tetapi, jika dalam pembelaan itu masih menggunakan simbol-simbol agama tertentu, maka menjadi sektarian lagi. itu susahnya.
Palestina menurutku biarkan sajalah itu menjadi urusan antar negara (bilateral) dan PBB jika mamang di sana ada unsur kejahatan kemanusiaan.
Menurutku masalah palestina jika memang negara-negara arab mau bersatu melawan israel, mestinya segera beres. Yang menjadi masalah, mengapa tidak ada persatuan militer antar sesama negara arab (Pan arabism)? sehingga ketika salah satu negara anggota diserang oleh negara lain, maka seluruh gabungan tentara negara-negara arab langsung diterjunkan untuk melawannya.
Lha wong sesama negara atau bangsa arab saja tidak mau saling bantu, terus mengapa bangsa kita “sok peduli?” bukankah bangsa arab itu bukan nenek moyang bangsa kita? apakah gara-gara sentimen agama yang kebetulan sama-sama muslim lalu kita membela mati-matian?
jika ini penyebabnya, saya pikir tindakan itu bodoh sekali. marilah generasi muda muslim yang selama ini sok membela palestina berpikir kembali, untuk apa sebenarnya?
7 September 2009 at 06:29
Mas biru komentarku ilang ternyata. Hi Hi Hi. Jangan-jangan nyasar diblok dianggap spam. Whaduh. Kalo memang gicu tolongin aku yah? Salam. Terimakasih.
8 September 2009 at 20:13
@bang LP
gak ada tuh bang
gak ada yang masuk spam
ke hapus kali??
@LP & Supra
sy nonton diskusi kalian aja ya…
seru neh…
9 September 2009 at 09:45
Buat kita renungkan:
Apa benar sih tuhan kok suka mengancam? mungkin itu hanyalah merupakan cerminan nabi pembawanya.
Artinya, kalau nabinya suka perang, otomatis tuhannya juga suka perang, kalau nabinya suka mengancam otomatis tuhannya juga suka mengancam, kalau nabinya suka poligami (perempuan) ya…tuhannya pun suka poligami juga. Jika nabinya tidak menyukai “kafir”, tuhannya pun pasti anti kafir juga dan seterusnya.
Kayaknya, PIKIRAN TUHAN MENGIKUTI PIKIRAN NABI deh. Coba saja kita lihat, dimana nabi itu dilahirkan maka otomatis karakter tuhan mewakili kultur masyarakat setempat.
Coba deh andaikata muhammad lahir di Jawa, khususnya Jawa Tengah maka bentuk-bentuk wahyu-Nya atau nuansanya pun niscaya akan berbeda. Sebab, karakter dan persoalan antara orang arab dengan orang Jawa so pasti sangat berbeda. Jadi konsep wahyu itu sebenarnya sangat dipengaruhi oleh kultur setempat.
Jadi? tuhan mungkin cuma alat untuk menghipnosis. Makanya, jika nabinya “kuat” bentuk ancaman tuhan (bentuk wahyu-Nya) bisa langsung di muka bumi (hukum pidana).
Tetapi ketika nabinya masih lemah karena belum memiliki kekuatan yang ditopang oleh para pengikutnya (basis massanya masih sedikit), biasanya ancaman tuhan lebih bersifat “persuasif” yakni cukup berupa “siksa di alam kubur” atau siksa yang sangat pedih di neraka. Tunggulah kematianmu, di sana tuhan akan mengadakan perhitungan/pembalasan.
He he he, tuhan kok beraninya sama orang mati, wah tuhan yang lemah dong. Orang yang sudah mati kok dimusuhi, gak ketemu akal sehat kan? Orang beriman niscaya akan menjawab “Lho tapi kan ruhnya tidak ikut mati, yang mati kan cuma raganya”.
Kalau begitu ngapain untuk “menghukum ruh” saja harus tunggu raganya mati lebih dulu? Apa tuhan tidak bisa menyiksa/menghukum ruh seseorang pada saat dia masih hidup, pasti bisa kan? wong katanya tuhan maha kuasa? andai nabi-nabi itu saat ini masih hidup, hal ini pasti saya tanyakan kepada nabi-nabi yang mengaku utusan tuhan itu.
Pemahaman demikian akan lebih mudah mempelajiranya apabila dalam membaca alkitab (dalam hal ini al quran) tidak sepotong-sepotong melainkan secara holistik, sistematik dan kronologik disertai asbaabun nuzuulnya.
Caranya? pertama-tama al quran yang terdiri dari 114 surat itu harus displit lebih dulu menjadi dua kelompok yakni surat-surat yang turun di Mekah (golongan surat-surat Makkiyah) dan golongan surat-surat yang turun di Madinah (Madaniyyah).
Penyusunan al quran yang ada dihadapan anda saat ini tidaklah urut berdasarkan periodesasi turunnya ayat. Misal, ayat yang pertama turun adalah Al alaq, tetapi penyusunannya justru ditempatkan pada surat ke 96.
Mengapa bisa terjadi demikian? coba tanyakan pada yang pertama kali menyusun alquran, mengapa al quran kok tidak disusun secara sistematik dan kronologik? Mengapa ini penting ditanyakan? sebab untuk memahami anatomi al quran secara baik, mau tidak mau harus dibaca secara holistik, sistematik dan kronologis.
Dari hasil pengelompokan berdasarkan tempat turunnya wahyu, kita bisa melihat perbedaan karakter yang sangat mencolok. Misal jika pada periodesasi Mekah (pada saat posisi muhammad masih lemah) ayat-ayat mengenai “golongan kafir” cenderung masih akomodatif (lihat QS 109)tetapi tidak demikian ketika posisi muhammad sudah mulai kuat baik secara politis maupun ekonomis maka bentuk ayat-ayat mengenai penyerangan terhadap “golongan kafir” mulai jelas ancaman-ancamannya (ancaman secara fisik, jadi bukan lagi ancaman secara psikis).
Oleh karena itu jika kita akan berbicara mengenai sikap muhammad (yang juga tentu saja adalah sikap allah) terhadap golongan kafir, maka mau tidak mau kita harus “mengumpulkan” KESELURUHAN AYAT tentang kafir dari mulai yang turun di Mekah sampai di Madinah.
MEMAHAMI SUATU AYAT Tidak bisa secara parsial (sepotong-sepotong), sebab dalam hal terminologi kafir akhirnya pun mengalami perubahan yang significant.
Hampir seluruh produk hukum yang bersifat mengikat/memaksa turunnya juga di Madinah. Mengapa kok bisa demikian? Bisakah faktor sosiologis-politis diabaikan?
Nah, jika al kitab dalam hal ini al quran dibaca “HANYA” melalui pendekatan mistis maka hasilnya ayat-ayat al quran akan menjelma menjadi kekuatan ghoib yang serba sakral.
Tetapi, jika membaca atau memahami al quran sebagai kitab perjalanan atau sejarah sosok muhhamad, maka akan melahirkan ilmu pengetahuan yang sifatnya sangat reliable bahwa tak bisa dipungkiri atau memisahkan ayat alquran dengan faktor politik dan kekuasaan.
itu opini saya pribadi. tk
9 September 2009 at 21:09
@OM Biru : Hi Hi Hi, jangan2 nggak sampe ke Wp, apa sudah tak submit apa belum yah? Jangan2 yang tak submit malah komentar untuk blog yang lain. Entahlah apa aku sudah tambah pikun sekarang ? Hi hi hi.Jan..jan…gaswat nih.
@Mas Prayit :
Menurutku masalah palestina jika memang negara-negara arab mau bersatu melawan israel, mestinya segera beres. Yang menjadi masalah, mengapa tidak ada persatuan militer antar sesama negara arab (Pan arabism)? sehingga ketika salah satu negara anggota diserang oleh negara lain, maka seluruh gabungan tentara negara-negara arab langsung diterjunkan untuk melawannya.
===? Kan aku sudah bilang masing2 negara punya kepentingan yang berbeda.
Lha wong sesama negara atau bangsa arab saja tidak mau saling bantu, terus mengapa bangsa kita “sok peduli?” bukankah bangsa arab itu bukan nenek moyang bangsa kita? apakah gara-gara sentimen agama yang kebetulan sama-sama muslim lalu kita membela mati-matian? ===> Mungkin saja kamu benar, tetapi justru itulah yang juga perlu dipikirkan lebih enak. Masalah Palestina jelas bukan semata-mata terkait dengan Islam saja. Lha rekan2 muslim yang melihat Islam sebagai rahmatan lil alamin juga saya rasa baik jika mengangkat isyu yang lebih universal . Jangan cuma dilihat sekedar ada muslim teraniaya dianiaya oleh non muslim. Tetapi lihatlah dari sisi bahwa ada masalah kemanusiaan yang harus diatasi bersama. Lha kalo alasannya karena bangsa Arab bukan nenek moyang kita. Kamu yah antik jugalah itu. Hi Hi Hi. Lha wong kita ini bicara mengenai simpati empati terhadap sesama manusia kok kamu hubung2 ken sama nenek moyang barang.
======================================
Palestina menurutku biarkan sajalah itu menjadi urusan antar negara (bilateral) dan PBB jika mamang di sana ada unsur kejahatan kemanusiaan.
Masalahnya saya juga nggak terlalu yakin sama PBB.
9 September 2009 at 21:31
Pemahaman demikian akan lebih mudah mempelajiranya apabila dalam membaca alkitab (dalam hal ini al quran) tidak sepotong-sepotong melainkan secara holistik, sistematik dan kronologik disertai asbaabun nuzuulnya.
===> Lha kamu pinter gicu kok. He he he
Dari hasil pengelompokan berdasarkan tempat turunnya wahyu, kita bisa melihat perbedaan karakter yang sangat mencolok. Misal jika pada periodesasi Mekah (pada saat posisi muhammad masih lemah) ayat-ayat mengenai “golongan kafir” cenderung masih akomodatif (lihat QS 109)tetapi tidak demikian ketika posisi muhammad sudah mulai kuat baik secara politis maupun ekonomis maka bentuk ayat-ayat mengenai penyerangan terhadap “golongan kafir” mulai jelas ancaman-ancamannya (ancaman secara fisik, jadi bukan lagi ancaman secara psikis). ===> Memang ada pendapat model seperti itu baik di dalam internal Islam maupun pihak lain. Biasanya ada yang mengaitkan ini sebagai strategi dsb. Tetapi kalo menurutku pribadi sih kayaknya nggak gicu-gicu amat.
Keras atau lunak kan juga terkait dengan interaksi gicu ya?
Di Madinah saat masa hijrah adalah masa kerjasama antar warga Madinah, termasuk diantaranya dengan Yahudi dan Nasrani.
Lha ayat2 keras pada periode berikutnya juga terkait dengan pengkhianatan politis, pengkhianatan masa perang dsb.
============================================
Bisakah faktor sosiologis-politis diabaikan?
Mestinya tidak perlu diadu antara langit dan bumi. Bagaimanapun karena ayat itu diturunkan kepada manusia memang pasti bahasanya adalah bahasa manusia pada saat itu.
==========================================
Nah, jika al kitab dalam hal ini al quran dibaca “HANYA” melalui pendekatan mistis maka hasilnya ayat-ayat al quran akan menjelma menjadi kekuatan ghoib yang serba sakral.
Tetapi, jika membaca atau memahami al quran sebagai kitab perjalanan atau sejarah sosok muhhamad, maka akan melahirkan ilmu pengetahuan yang sifatnya sangat reliable bahwa tak bisa dipungkiri atau memisahkan ayat alquran dengan faktor politik dan kekuasaan.
===> Saya rasa itu nggak terlalu jadi masalah ya : A yang pakar bahasa mungkin terpesona dengan struktur bahasanya, B yang ahli pengobatan, mungkin melihatnya dari sisi pengobatan. C yang ahli hukum mungkin melihat dari sisi aturan-aturan, D yang ahli ilmu alam mungkin melihatnya dari sisi yang lain lagi.
Kalo kita bicara persepsi , melihat dari berbagai sisi, saya rasa manusia memang berbeda-beda cara melihatnya. Lha ada manusia yang fokus melihat salah satu sisi yang menjadi keahliananya, ada juga yang melihat secara lebih umum
10 September 2009 at 07:57
Kalo kita bicara persepsi , melihat dari berbagai sisi, saya rasa manusia memang berbeda-beda cara melihatnya. Lha ada manusia yang fokus melihat salah satu sisi yang menjadi keahliananya, ada juga yang melihat secara lebih umum ============
kan aku udah bilang, jika kita melihat al quran tidak secara holistik, sistematik dan kronologik, ya hasilnya hanya berupa potongan-potongan puzzle.
mungkin seseorang mendpat gambar “telinganya” doang dan mengatakan telinga model ini paling sempurna, mungkin yang lain mendpat potongan rambut, hidung, tangan, kaki, dan seterusnya.
Mereka dengan pengetahuan yang masih sepotong-spotong sudah bisa menjadi “guru” dan gebleknya lagi muridnya juga mengelu-elukan, sambil ikut mempromosikan “Lihat tuh guru guwe yang paling hebat ilmu agamanya”.
Nah, yang terjadi akhirnya “kepatuhan secara buta” dikiranya al kitab itu merupakan lembaran-lembaran suci yang tak terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan politik kekuasaan dan seks nabi muhammad sendiri. Jelas kan?
untuk maslah pembelaan “etnik” terus terang gw masih berpikir “lebih diutamakan” gw membela sesama etnik kita dari pada membela etnik arab. Mengapa? toh etnik arab juga memiliki perasaan ego yang sama.
Makanya jika bangsa arab pengin kuat, ya mereka harus bersatu lebih dulu sesama etnik/bangsa arab.
Lha wong sesama etnik arab aja masih pukul-pukulan dan bunuh-bunuhan, kok kita yang bukan “apa-apa” nya mereka sibuk mengadakan pembelaan. Bangsa arab kan jelas bukan nenek moyang kita, artinya secara genetis-psikis-subyektif dan emosi, tak ada “ikatan batin” dengan bangsa kita.
Secara kemanusiaan sih OK, tapi kan ada beberapa syarat supaya kita bersimpati pada bangsa arab,syarat pertama bangsa arab ya harus menghargai dan mau membantu kita dalm setiap kesulitan. Toh bangsa kita sudah memberikan “babu-babu” yang mau dibayar murah dan sudah memberikan devisa yang sangat besar sepanjang sejarah melalui ibadah haji.
Pertanyaannya, apa yang dilakukan negara-negara super kaya arab terhadap bangsa kita, ketika bangsa ini mendapatkan musibah?
Apa bangsa arab merasa masih kurang atas semua kebaikan dari bangsa kita? Bangsa kita juga merupakan “pengimpor” agama dari arab yang terbesar di dunia, iya kan?
Apa keuntungan kita dengan menjadi pengimpor agama terbesar dari bangsa/negara arab?kan yang paling untung juga negara arab. Kita paling cuma pinter ngaji dan membaca tulisan arab, sedang arab saudi mendapatkan nilai plus-plus dari ibadah haji/umrah sepanjang masa.
itu kan semua fakta? yang entah kapan kita akan menjadi bangsa yang penuh dengan kesadaran untuk menghentikan impor agma.
10 September 2009 at 12:26
kan aku udah bilang, jika kita melihat al quran tidak secara holistik, sistematik dan kronologik, ya hasilnya hanya berupa potongan-potongan puzzle.
mungkin seseorang mendpat gambar “telinganya” doang dan mengatakan telinga model ini paling sempurna, mungkin yang lain mendpat potongan rambut, hidung, tangan, kaki, dan seterusnya.
Mereka dengan pengetahuan yang masih sepotong-spotong sudah bisa menjadi “guru” dan gebleknya lagi muridnya juga mengelu-elukan, sambil ikut mempromosikan “Lihat tuh guru guwe yang paling hebat ilmu agamanya”.
===> Yah bisa gicu bisa juga nggak. Lagian yang namanya ilmu kan ya seperti itu. Wajar jika ada ahli bahasa, wajar jika ahli matematika. Lha kalo yang bisa holistik matematika digoreng pake telor dicampur sama bahasa ya bolehlah, kalo bisa semuanya. Kalo nggak bisa sempurna semuanya. Yah masih mendinganlah. Yang namanya pakar bahasa juga ada nilainya biarpun dia nggak pintar matematika, begicu juga sebaliknya.
====
Pertanyaannya, apa yang dilakukan negara-negara super kaya arab terhadap bangsa kita, ketika bangsa ini mendapatkan musibah? === > Kamu itu senengnya minta saja terus. Hi Hi Hi
SALAM
10 September 2009 at 18:39
Ya terserah saja, jika kamu menafsirkan al quran secara sepotong-sepotong berdasarkan spesialisasi atau kecenderungan masing-masing, itu sah-sah saja, aku tidak melarang sebab apa sih hak saya untuk melarangnya? aku kan cuma memberikan pandangan, beginilah kalau ingin memahami al qsuran secara utuh. Kemudian setelah menguasai baru ambil spesialisasi. Itu saja.
Cuma kalau aku analogikan, betapapun enaknya buah durian (bagi yang hoby tentu saja) maka harus tahu teknik memilih dan memilah buah durian yang lezat, kemudian harus tahu taknik membuka sehingga buahnya bisa kita nikmati.
Lha betapapun enaknya buah durian kalau kita makan sa kulite, ya pasti bukannya enak tapi malah nyonyor mulute sampeyan.
Begitu pun dengan al quran maka betapapun hebatnya alquran maka kita harus tahu teknik mengupasnya. Kamu mungkin punya teknik tersendiri, silakan saja.
Untuk bangsa arab, emang kamu sudah banyak memberi ya? kalau boleh tahu apa saja neh yang telah kamu berikan kepada bangsa arab?
Saya bicara bukan mengatasnamakan pribadi bro, tetapi pada level negara, tanya saja kepada pemerintah kita. apa yang telah dilakukan oleh bangsa arab ketika kita sedang dirundung musibah baik ekonomi maupun bencana alam?
Jadi bukan soal minta meminta seperti yang kamu bayangkan, melainkan proses simbiosis mutualism. begitu lho, masak yang ringan gini saja kamu tidak bisa menangkap apa yang aku maksud?
10 September 2009 at 20:46
pertanyaannya, apa yang dilakukan negara-negara super kaya arab terhadap bangsa kita, ketika bangsa ini mendapatkan musibah? === > Kamu itu senengnya minta saja terus. Hi Hi Hi
@love, secara pribadi aku gak sudi “ngemis” pada bangsa arab!!!bahkan sekedar “niliki/menengok” kabah pun aku gak sudi, biarpun andaikata ada orang yang berbaik hati ingin membiayainya.
kabah “bagiku” adalah simbol pemberhalaan “rumah tuhan”.
10 September 2009 at 21:20
Jadi bukan soal minta meminta seperti yang kamu bayangkan, melainkan proses simbiosis mutualism. begitu lho, masak yang ringan gini saja kamu tidak bisa menangkap apa yang aku maksud? ===> Memangnya menurutmu aku lagi membayangkan apa sih ??? Hi Hi Hi. Kamu ngarang ih, emangnya kau pikir aku lagi mbayangin kamu lagi minta2 duit atau sumbangan gicu yah??? Lha ngapain juga aku ngurusin kamu.
Yang kubicarakan itu tepat sama dengan isi kepalamu itu. Kita kan sehati hi hi hi.
Maksudku : Indonesia itu gak usah jadi peminta-minta ya masih bisa hidup baik meminta dari negara A atau negara B, C, D dsb. Ketika kamu minta itu kamu mbayangin Indonesia kan yang tidak disumbang. Lha jawabanku itu ya soal itu. Nggak usah minta sumbangan. Gicu.
10 September 2009 at 21:23
Lha betapapun enaknya buah durian kalau kita makan sa kulite, ya pasti bukannya enak tapi malah nyonyor mulute sampeyan. ===> Justru itulah yang namanya komprehensip itu bukan berarti makan duren sama kulitnya. Gicu. Kulit itu penting untuk melindungi isi, tetapi memang tidak perlu makan duren dengan kulitnya.
10 September 2009 at 21:26
Lha kamu sok komprehensip melulu. Kan yang ribut soal utuh kamu kan? Ya nikmati saja duren tuh seutuh-utuhnya. Makan saja tuh duren seholistik mungkin sak biji-bijinya dan kulitnya. (melet mode on)
11 September 2009 at 01:00
lah salah lagi kan interpretasimu? kan udah aku jelasin panjang lebar bahwa pengertian komprehensif itu bukan makan duren sa kulite, itu namanya “konyol” bin bego.
Dan terus terang saya melihat justru lebih banyak orang yang salah dalam memakan, sehingga buah durian yang sangat lezat itu dimakan dengan kulitnya.
Mulutnya memang nyonyor, tetapi mereka tidak merasa sakit karena pada saat mau makan mereka berdoa lebih dulu.
yang dimaksud komprehensif adalah tentu saja kita harus tahu kulitnya, isi, cara membukanya dan cara memakannya.
Ok kayaknya diskusi sudah sampai pada “titik jenuh”, ibarat main catur kamu sudah tidak bisa membedakan dengan jelas antara beteng dengan kuda, antara menteri dengan raja.
Mohon maaf semuanya, untuk mas biru, juga untuk love. Kesimpulan sementara dari hasil percakapan atau diskusi ini saya kesulitan mendeteksi apakah love ini “pria atau wanita”. Harapan saya, semoga saja si love ini bukan jenis bencong. Mudah-mudahan kamu paham dengan analogi seperti ini.
Sory yo love, saya amati kamu sering menulis satu kalimat yang dibarengi dengan Hi Hi Hi… itu artinya pasti kamu suka tertawa alias tidak gampang marah. Gak tahu apakah kalau pas sendirian juga sering Hi……Hi……..Hi……. oh seraaaam!!!!!!!!!!!!!
Untuk biru, semoga tanggapan-tanggapan dari saya ada manfaatnya kalau tidak ada pun mudah untuk mendeletenya kan?
salam
matur suwun
11 September 2009 at 02:15
lah salah lagi kan interpretasimu? kan udah aku jelasin panjang lebar bahwa pengertian komprehensif itu bukan makan duren sa kulite, itu namanya “konyol” bin bego.===> Kan sudah kuberitahukan kalo masalah konyol bin bego itu kamu memang bener. Hi Hi Hi .
========================================
Sory yo love, saya amati kamu sering menulis satu kalimat yang dibarengi dengan Hi Hi Hi… itu artinya pasti kamu suka tertawa alias tidak gampang marah. Gak tahu apakah kalau pas sendirian juga sering Hi……Hi……..Hi……. oh seraaaam!!!!!!!!!!!!!
===> Bagaimana kalo HO HO HO…- Yah tentu saja kamu benar. Hi Hi Hi itu justru memang kalo lagi sendirian. Kamu mau seram karepmu enggak ya karepmu. Kalo ada banyak orang aku nyengir sambil baca tulisanmu, bisa2 aku dianggap senewen. Di dunia ini ada satu orang senewen sudah terlalu banyak, nggak perlu aku ngikut senewen. Ngomong sama kamu memang bikin pegel lama-lama.
Bayangken aku ngomong serius, kau dua rius
Aku dua rius, kau superduper berius-rius.Kuikuti gayamu eh kamu malah nyasar hi hi hi. Kau membicarakan hantu aku mbicarakan buto ijo, pasangan yang klop kan ???
Ketika Kutolak dikau, kau pikir aku memusuhimu
Ketika Kuterima pendapatmu, kau bingung sendiri kok pendapatmu malah diterima. Mestinya ditolak saja. Padahal kamu sudah membuat persiapan kalo bakal ditolak.Eh lha kok malah diterima. Hi Hi Hi.
Inti dari pendapatku sebenarnya gampang, cuma biar kamu tambah semangat kucarikan kalimat yang gimana gicu yah? Biar klop sama gaya kamu yang bikin pegel pundak itu :
Saya tidak urusan dengan dikotomi Arab – Barat dsb.
Kelompok A berpihak ke Arab, kelompok B berpihak ke Barat. Yang satu mungkin mengaitkan dengan kedekatan agama, yang lain mungkin menganggap Barat lebih royal, dsb
Kalo menurutku sih mendingan Indonesia kalem2 saja. Yang namanya mutualisme itu hubungan seimbang antar kedua belah pihak.
Bukan yang satu subordinat yang lain entah Arab atau Barat. Indonesia harus mengupayakan itu. Jangan protes terhadap hal2 yang nggak penting banget karena merasa nggak disumbang entah oleh Arab atau Barat. Nggak disumbang ya suka2 yang nyumbang dong. Gicu saja kok repot.
Masalah Kitab SUci , jelas ada bagian yang sifatnya menerus atau tidak berubah, ada bagian yang sifatnya lokal atau boleh dipikirkan sesuai pemikiran masing-masing. Kau baca2lah omongan Pak Quraish Shihab tuh. Jangan cuma nonton Ipin saja biarpun lumayan keren juga tuh si Ipin. Malu gw sama kehebatan Malaysia. Hii hi hi.Kapan Indonesia bisa membuat model si IPin itu.
========================================
yang dimaksud komprehensif adalah tentu saja kita harus tahu kulitnya, isi, cara membukanya dan cara memakannya.
Bagaimana kalo gini : Karena kau ahli dalam membuka duren : kau yang bagian membuka, lha aku yang bagian makan durennya gicu.hi hi hi.
Bagus juga kan itu. Kamu setuju nggak ???
Salam
Matur Suwun
11 September 2009 at 09:02
Bagaimana kalo gini : Karena kau ahli dalam membuka duren : kau yang bagian membuka, lha aku yang bagian makan durennya gicu.hi hi hi.
Bagus juga kan itu. Kamu setuju nggak ???
==============>
itu namanya ingin enaknya aja alias egois, aku tak setuju bro.
ya setiap orang “idealnya” jangan hanya pengin makan buahnya saja tetapi juga harus tahu bagaimana proses memilih durian yang bagus dan bagaimana cara mengupas dan memakannya.
Kalau sudah benar-benar tahu dan punya duit mungkin bisa “suruhan” orang lain untuk mengupasnya dan kita tinggal enak-enakan makan.
yah…….mirip-mirip yang dilakukan oleh para nabi gitulah. maka jika kita pengin jadi nabi ya harus tahu bagaimana cara berpikir nabi.Emang bagaimana cara berpikir nabi?
Mudah saja kok, pada dasarnya setiap manusia memiliki “cacat bawaan” yang namanya “rasa takut dan rasa cemas”.
Nah, rasa takut ini bisa dieksplor menjadi sarana untuk “menguasai” mind set seserorang dengan cara “mengancam” baik secara psikis maupun secara fisik.
Nabi mamang bukan “preman” tetapi prinsip dasar kerjanya mirip-mirip yakni menebar ancaman dan rasa takut. Nah orang yang sudah takut akan “mudah banget” dikuasai.
Rasa takut itu milik setiap orang, entah itu prof dr atau orang awam. Oleh karena itu pangsa pasar agama meliputi seluruh segmen, dari mulai bayi sampai dengan orang tersebut mau mati.
jujur aku tidak tahu, apakah orang yang tidak takut dengan agama macam aku ini baik atau tidak. Yang jelas aku menikmati aja dan “sok merasa kasihan” dengan orang-orang yang dicekam terror agama. Sebagaimana orang yang beriman/beragama pasti juga sebaliknya mereka mungkin merasa iba melihat aku, sebab mereka yakin aku adalah pewaris kerajaan neraka.
Sedangkan orang-orang yang beriman memposisikan dirinya sebagai pewaris tahta surga. Yah, hidup memang hanyalah masalah “persepsi”.
udahlah ya love, kamu kan udah tahulah cara berpikir aku begitu juga aku juga udah tahu sebagian apa yang kamu pikirkan.
nanti kita ganti topik aja yang lebih menantang.soal memilih dan mengupas durian aku anggap udah selesai alias tamat.
daaaag………
11 September 2009 at 21:23
ya setiap orang “idealnya” jangan hanya pengin makan buahnya saja tetapi juga harus tahu bagaimana proses memilih durian yang bagus dan bagaimana cara mengupas dan memakannya. —> Terus bila perlu durennya juga nanam sendiri, mupuk sendiri, panen sendiri. Kasihan bakul duren dong
Hi Hi Hi
OKElah lama2 aku juga jadi bingung kita ini sedang membicarakan agama atau duren. Break..Break. Servis Over. Capek…memang mendingan berhenti dulu.
12 September 2009 at 16:30
gak usah bingung, supaya uenaak bicara agama sambil makan buah durian.
12 September 2009 at 23:02
Lha itu malah nambahin bingung. Ngomong sama kamu saja sudah bikin pundak pegel, ditambah makan duren bisa bikin kepala pusing
13 September 2009 at 06:50
he….he……..he…….mas love, jangan khawatir, nanti tak pijeti wis, upahe sampean cukup nyediain jagung bakar sama teh hijau anget aja (wah dadi kelingan butho ijo neh).
tak jamin pundak sampean yang pegel akan segera sembuh.Love orang-orang yang baca tulisanku biasanya yang “pegel” kepalanya lho alias pusing.
ini panjenengan yang pegel kok pundaknya ya? he…he…apa kebanyakan ngetiknya gitu? padahal aku lihat ngetiknya lebih banyak aku lho dari pada panjenengan.
13 September 2009 at 11:10
Lha emangnya aku cuma ngobrol sama kamu saja. Hi Hi Hi, tapi ngobrol sama kamu itu termasuk yang paling nambahi pendak pegel. Hi Hi Hi.
16 September 2009 at 21:41
Ada kemungkinan aku nggak sempat online beberapa hari mendatang. Hi hi hi. Aku duluin saja yah : Mohon Maaf Lahir Batin untuk Mas Biru, Mas Supriyatin, dan semua rekan